Temu Ilmiah III ITP2I Bahas Masa Depan Industri Sawit, Dorong Hilirisasi dan Inovasi Teknologi

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, PELALAWAN – Institut Teknologi Perkebunan Pelalawan Indonesia (ITP2I) menggelar Temu Ilmiah III dalam rangka Dies Natalis ke-10 di Auditorium Lantai III Kantor Bupati Pelalawan, Riau, Rabu (8/7/2026). Mengusung tema Advancing the Palm Oil Industry: Smart and Sustainable Technologies for Downstream Innovation and Industrial Challenges, forum ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, peneliti, pemerintah, dan pelaku industri sawit untuk membahas arah pengembangan sektor kelapa sawit Indonesia.

Kegiatan tersebut dihadiri Asisten III Setdakab Pelalawan Mayhendri yang mewakili Bupati Pelalawan, Rektor sekaligus pendiri ITP2I Prof. Tengku Dahril, Ketua Yayasan Amanah Pelalawan Tengku Zulmizan, serta sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri. Mereka di antaranya Assoc. Prof. Potjamarn Suraninpong dari Walailak University Thailand, Prof. Ir. Hariyadi, M.S. dari IPB University, Prof. Khairur Rizal dari Universiti Teknologi Malaysia (UTM), dan Sariadi Sipayung, Senior Estate Manager Wilmar Afrika yang bertugas di Nigeria.

Sebelum sesi utama dimulai, Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Mohammad Alfansyah, memberikan arahan kepada peserta secara daring melalui Zoom.

Forum ilmiah dibagi dalam dua sesi diskusi. Sesi pertama dipandu Cecilya Silalahi, S.P., M.Si. dengan menghadirkan Assoc. Prof. Potjamarn Suraninpong dan Prof. Hariyadi sebagai pembicara. Sementara sesi kedua dimoderatori Salmiyati, M.Pd., Ph.D. dengan narasumber Prof. Khairur Rizal dan Sariadi Sipayung.

Dalam sambutannya, Rektor ITP2I Prof. Tengku Dahril menyampaikan bahwa kampus yang fokus pada pengembangan ilmu dan teknologi perkebunan tersebut terus menunjukkan perkembangan signifikan.

Hingga saat ini, ITP2I telah meluluskan 192 alumni yang bekerja di berbagai sektor industri perkebunan, sementara 628 mahasiswa masih menempuh pendidikan di kampus tersebut.

“Kami terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ke depan seluruh dosen ITP2I ditargetkan memiliki kualifikasi doktor sehingga mampu menghasilkan riset dan inovasi yang memberikan solusi bagi pengembangan industri perkebunan, khususnya kelapa sawit,” ujarnya.

Menurutnya, Temu Ilmiah III menjadi ruang penting untuk mempertemukan gagasan dan hasil penelitian dalam menjawab tantangan industri sawit yang semakin kompleks.

Sementara itu, Asisten III Setdakab Pelalawan Mayhendri mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut. Ia menilai Pelalawan sebagai salah satu daerah penghasil sawit membutuhkan dukungan riset dan teknologi agar mampu meningkatkan daya saing di tingkat global.

Menurut Mayhendri, industri sawit kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari isu lingkungan, tuntutan pasar internasional, hingga perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat. Karena itu, transformasi industri melalui inovasi dan penerapan prinsip keberlanjutan menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari.

Ia menegaskan hilirisasi merupakan strategi penting untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit sekaligus membuka lapangan kerja dan mendorong kesejahteraan masyarakat.

“Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah produk sawit, memperluas lapangan kerja, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita tidak boleh hanya menjual bahan baku, tetapi harus mampu menghasilkan berbagai produk turunan yang bernilai ekonomi tinggi,” katanya.

Selain hilirisasi, Mayhendri juga menekankan pentingnya penerapan teknologi digital seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan sistem pertanian cerdas guna meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta daya saing industri sawit nasional.

Ia juga menilai sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ekosistem industri sawit yang modern dan berkelanjutan. Perguruan tinggi, menurutnya, memiliki peran strategis sebagai pusat riset dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan industri.

Dalam forum tersebut, peserta turut membahas berbagai isu strategis, mulai dari tata kelola perkebunan yang berkelanjutan, penerapan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), sistem ketertelusuran (traceability) produk sawit, hingga penguatan legalitas UMKM berbasis komoditas perkebunan.

Pembahasan juga menyoroti pentingnya pengembangan kawasan perkebunan yang memenuhi prinsip keberlanjutan agar produk sawit Indonesia semakin diterima di pasar global.

Selain itu, peserta menilai hilirisasi mampu memperluas manfaat ekonomi komoditas sawit, tidak hanya sebagai penyumbang devisa negara dan penyerap tenaga kerja, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah, peningkatan kesejahteraan petani, serta media edukasi bagi generasi muda mengenai potensi produk turunan kelapa sawit.

Peran Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) juga menjadi perhatian dalam forum tersebut. Melalui dukungan pendanaan riset, pengembangan sumber daya manusia, promosi, program peremajaan sawit, penyediaan sarana dan prasarana, hingga hilirisasi industri, BPDP dinilai memiliki kontribusi strategis dalam mempercepat transformasi industri sawit nasional.

Menutup sambutannya, Mayhendri berharap Temu Ilmiah III ITP2I menghasilkan rekomendasi dan kerja sama konkret yang mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

“Dengan sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat, kita optimistis dapat mewujudkan industri kelapa sawit Indonesia yang modern, berdaya saing tinggi, serta tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan,” kata dia.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |