Logo Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Rabu (3/12/2025).
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menerima enam mahasiswa internasional dari enam negara melalui Program Beasiswa Peradaban sebagai upaya memperkuat diplomasi pendidikan sekaligus mengenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat kepada masyarakat dunia.
Keenam mahasiswa tersebut berasal dari Afghanistan, Aljazair, Nigeria, Tanzania, Pakistan, dan Bangladesh. Mereka mengikuti Orientasi Penerima Beasiswa Peradaban sebelum memulai studi jenjang sarjana dan magister di Universitas KH Abdul Chalim (UAC) Mojokerto.
Program hasil kolaborasi PBNU dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI yang dikelola melalui NU Scholarship (NUS) itu mengusung tema "Mencetak Pemimpin Global melalui Pendidikan, Moderasi, dan Peradaban." Program tersebut diharapkan menjadi sarana memperluas jejaring akademik internasional sekaligus memperkenalkan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.
Sekretaris Lakpesdam PBNU, Ufi Ulfiah mengatakan, Beasiswa Peradaban tidak hanya memberikan kesempatan belajar di Indonesia, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan nilai-nilai keislaman Nahdlatul Ulama kepada calon pemimpin dari berbagai negara.
"Selamat datang kepada seluruh penerima Beasiswa Peradaban. Kami berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya, bukan hanya untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk mengenal Indonesia, memahami tradisi keislaman Nahdlatul Ulama, serta kelak memperkenalkan pengalaman tersebut kepada masyarakat di negara masing-masing," kata Ufi di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (15/7/2026).
Adapun enam penerima beasiswa tahun ini ialah Ahmad Fraidon Qaderi (Afghanistan), Zakaria Nait Mohand (Aljazair), Abdulhameed Mubarak Adinoyi (Nigeria), Issa Asili Omary (Tanzania), Ibad Ali Jan (Pakistan), dan Nafisa Sikder (Bangladesh). Seluruhnya memperoleh beasiswa penuh untuk menempuh pendidikan di UAC Mojokerto.
Kepala Divisi Pendidikan dan Dakwah Baznas RI, Farid Septian mengatakan dukungan terhadap Program Beasiswa Peradaban merupakan bagian dari komitmen Baznas dalam mengoptimalkan pemanfaatan dana zakat untuk pengembangan sumber daya manusia melalui pendidikan.
Menurut Farid, pendidikan merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi pemimpin masa depan. Karena itu, Baznas terus mendukung berbagai program beasiswa, termasuk Beasiswa Peradaban dan program beasiswa bagi masyarakat Gaza melalui kerja sama dengan berbagai kementerian.
Ia menjelaskan, Universitas KH Abdul Chalim dipilih sebagai kampus tujuan karena memiliki kualitas akademik yang baik sekaligus lingkungan yang kuat dalam pengembangan tradisi Islam Ahlussunnah wal Jamaah ala Nahdlatul Ulama.
"Selain pendidikan, kami juga memiliki program filantropi dan riset yang dapat menjadi ruang kolaborasi bagi para mahasiswa selama menempuh studi di Indonesia," ucapnya.

2 hours ago
2











































