“Silent Symphony”, Karya Mahasiswa UBSI yang Sukses Curhatkan Luka Banyak Orang

3 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, PONTIANAK -- Tidak semua luka bisa diceritakan lewat kata-kata. Ada yang memilih diam, memendam, lalu perlahan mencoba pulih sendirian. Perasaan itulah yang seolah hadir dan hidup dalam karya seni bertajuk Silent Symphony yang dipamerkan pada ajang Canfas2k26 di Port 99 Pontianak, Jumat hingga Sabtu, 1-2 Mei 2026.

Mengusung tema “Charity Night: For All From Us”, Canfas2k26 menjadi ruang bagi generasi muda menampilkan kreativitas sekaligus menyuarakan pesan sosial melalui karya seni dan kegiatan penggalangan donasi.

Di tengah deretan karya seni yang memenuhi ruangan, Silent Symphony berhasil mencuri perhatian banyak pengunjung.

Bukan karena warna yang paling mencolok atau bentuk yang paling megah, melainkan karena pesan sunyi yang terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak orang. Siapa pun yang melihatnya seperti diajak masuk ke dalam ruang penuh emosi, tentang lelah, luka, dan harapan untuk bangkit kembali.

Karya ini hasil kolaborasi Hani Ulfiah Rachim, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak, bersama Ricol.

Dengan konsep mixed media berupa lukisan dan instalasi, karya ini menghadirkan visual penuh simbol yang menggambarkan perjalanan seseorang saat berusaha berdamai dengan rasa sakit dalam hidupnya.

Tubuh retak yang menjadi pusat perhatian dalam karya itu bukan sekadar gambar biasa. Retakan tersebut melambangkan luka emosional, tekanan hidup, hingga rasa hancur yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain.

Namun menariknya, dari retakan itu justru tumbuh bunga dan kupu-kupu yang menjadi simbol harapan, pertumbuhan, dan lahirnya kehidupan baru setelah melewati masa sulit.

Tak hanya itu, sosok di kursi roda yang ditampilkan dalam karya memberi gambaran bahwa perjalanan untuk pulih memang tidak mudah. Ada proses panjang, rasa lelah, bahkan kesunyian yang harus dilalui seseorang untuk bisa kembali melangkah.

Pesan itulah yang membuat banyak pengunjung merasa relate dengan karya tersebut. Sebab tanpa disadari, Silent Symphony seperti sedang menceritakan kisah banyak orang yang pernah berada di titik paling rapuh dalam hidupnya.

Hani mengungkapkan, karya tersebut lahir dari refleksi terhadap realita yang banyak dialami generasi muda saat ini, terutama mengenai kesehatan mental, tekanan hidup, dan perjuangan untuk tetap bertahan di tengah keadaan yang tidak selalu baik-baik saja.

“Melalui Silent Symphony, saya ingin menyampaikan setiap orang pasti pernah berada di titik lelah atau hancur. Namun dari keadaan itu, selalu ada kesempatan untuk tumbuh kembali. Kadang proses pulih memang sunyi dan tidak terlihat, tetapi itu tetap sebuah perjalanan yang berarti,” ujar Hani.

Sementara itu, Yoki Firmansyah Koordinator Kemahasiswaan UBSI kampus Pontianak yang dikenal sebagai Kampus Digital Kreatif, mengapresiasi karya yang ditampilkan mahasiswa dalam ajang tersebut. Menurutnya, karya seni tidak hanya menjadi bentuk kreativitas, tetapi juga media untuk menyampaikan empati dan pesan sosial kepada masyarakat.

“Karya yang ditampilkan Hani memiliki pesan yang sangat mendalam dan relevan dengan kehidupan saat ini. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa Universitas BSI kampus Pontianak tidak hanya berkembang dalam bidang teknologi dan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan karya seni yang penuh makna dan nilai kemanusiaan,” ungkap Yoki dalam keterangan Rabu (20/5/2026).

Melalui Canfas2k26, mahasiswa UBSI kampus Pontianak membuktikan, seni bukan hanya tentang keindahan visual. Lebih dari itu, seni bisa menjadi ruang untuk bercerita, menyampaikan rasa yang sulit diucapkan, bahkan menjadi pengingat bahwa setiap luka selalu memiliki peluang untuk sembuh.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |