Akademisi IAHN: Kerukunan Umat Modal Sosial Utama Pembangunan Buleleng

5 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, BULELENG, – Akademisi Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja, Komang Agus Dharmayoga Kantina, menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan modal sosial utama dalam mendukung pembangunan di Kabupaten Buleleng, Bali. Ia menyampaikan hal tersebut di Singaraja pada Minggu.

Menurutnya, pembangunan tidak hanya membutuhkan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kondisi sosial yang aman dan harmonis. Kerukunan menjadi fondasi penting agar proses pembangunan dapat berjalan efektif.

Secara sosiologis, Dharmayoga menjelaskan kerukunan tidak sekadar dimaknai sebagai tidak adanya konflik. Lebih dari itu, kerukunan adalah kemampuan masyarakat yang berbeda agama, suku, dan latar belakang untuk hidup berdampingan, saling menghormati, dan bekerja sama dalam kepentingan bersama.

"Berbeda-beda agama tetapi tetap dalam satu persaudaraan. Dalam konteks masyarakat Buleleng, nilai menyama braya menjadi modal kultural yang penting karena membangun kesadaran bahwa perbedaan tidak harus menjadi sumber jarak sosial," kata Komang Agus.

Integrasi Sosial dan Modal Kultural

Kehidupan masyarakat Buleleng memperlihatkan adanya interaksi lintas agama dalam berbagai ruang sosial. Interaksi ini terjadi di lingkungan tempat tinggal, kegiatan ekonomi, pendidikan, kebudayaan, hingga aktivitas sosial kemasyarakatan.

Dalam kajian sosiologi, kondisi tersebut dapat dilihat sebagai bentuk integrasi sosial. Kelompok-kelompok berbeda mampu mempertahankan identitas masing-masing, namun tetap memiliki norma dan kepentingan bersama sebagai perekat kehidupan sosial.

Ia menjelaskan kerukunan juga berkaitan erat dengan konsep modal sosial yang meliputi kepercayaan, norma bersama, dan jaringan sosial. Semakin kuat kepercayaan antarkelompok, semakin mudah masyarakat membangun kerja sama untuk menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

"Kalau masyarakat memiliki kepercayaan satu sama lain, biaya sosial untuk membangun kerja sama menjadi lebih rendah. Sebaliknya, prasangka dan konflik justru menguras energi masyarakat yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan," ujarnya.

Peran Lembaga dan Tantangan Digital

Komang Agus menilai keberadaan pemerintah, tokoh agama, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), organisasi kemasyarakatan, desa adat, dan kelompok masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga komunikasi serta ruang dialog antarkelompok di Buleleng.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan kerukunan kini tidak hanya muncul dalam kehidupan sosial secara langsung, tetapi juga di ruang digital. Penyebaran informasi yang mengandung ujaran kebencian, stereotip, dan sentimen identitas dapat memicu prasangka apabila masyarakat tidak memiliki literasi digital yang baik.

Karena itu, ia mendorong penguatan pendidikan toleransi dan literasi digital, terutama bagi generasi muda. Selain itu, ia menyarankan untuk memperbanyak kegiatan lintas agama yang memungkinkan masyarakat berinteraksi dan bekerja sama secara langsung.

"Kerukunan harus terus dirawat melalui komunikasi, saling menghormati, dan kerja sama. Perbedaan agama jangan menjadi sekat, tetapi menjadi kekayaan sosial. Jika masyarakat rukun, pembangunan Buleleng akan memiliki fondasi yang lebih kuat dan berkelanjutan," kata Komang Agus menutup.

Konten ini diolah dengan bantuan AI.

sumber : antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |