REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kesepakatan Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai mendorong pemulihan perdagangan energi global. Data perusahaan pemantau arus perdagangan global, Kpler, menunjukkan sedikitnya 20 kapal tanker yang mengangkut sekitar 35 juta barel minyak telah keluar dari Teluk Persia setelah jalur strategis tersebut kembali dibuka.
Kpler mencatat kapal-kapal tanker non-Iran tersebut sebelumnya tertahan lebih dari tiga bulan setelah Iran secara efektif menutup akses Selat Hormuz pada awal konflik. Kapal-kapal itu diperkirakan tiba di tujuan akhir, yang sebagian besar berada di Asia, pada awal Agustus 2026.
Dilansir CNBC, Kamis (25/6/2026), pemulihan arus pengiriman energi turut mendorong kenaikan volume ekspor minyak melalui Selat Hormuz. Berdasarkan data Kpler, pengiriman minyak yang terkonfirmasi kini mencapai sekitar 4,8 juta barel per hari setelah tercapainya kesepakatan AS-Iran.
Meski meningkat dibandingkan periode konflik, volume tersebut masih jauh di bawah kondisi sebelum perang ketika sekitar 15 juta barel minyak per hari melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, kapal tanker Iran yang mengangkut sekitar 21 juta barel minyak juga telah keluar dari Selat Hormuz sepanjang Juni 2026. Sementara itu, kapal-kapal non-Iran yang dimuat sejak akhir April tercatat membawa sekitar 51 juta barel minyak pada bulan ini.
Pemulihan ekspor minyak terjadi setelah Angkatan Laut AS menghentikan blokade terhadap Iran pada 18 Juni 2026. Pemerintah AS juga memberikan kelonggaran sementara terhadap sanksi penjualan minyak Iran hingga Agustus 2026.
Meningkatnya kembali arus perdagangan energi dinilai berpotensi memberikan sentimen positif bagi perekonomian global. Pasokan minyak yang lebih lancar dapat membantu menekan volatilitas harga energi yang selama beberapa bulan terakhir dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC) juga menurunkan tingkat ancaman keamanan pelayaran di Selat Hormuz dari status "kritis" menjadi "moderat". Menurut JMIC, risiko serangan terhadap kapal masih ada, namun peluangnya dinilai lebih kecil setelah implementasi nota kesepahaman antara AS dan Iran.
Perbaikan kondisi keamanan tersebut membuka peluang bagi normalisasi rantai pasok energi global yang selama ini terganggu. Bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, stabilitas pasokan minyak berpotensi membantu mengurangi tekanan biaya impor energi dan menjaga stabilitas inflasi.
Di sisi lain, Organisasi Maritim Internasional (International Maritime Organization/IMO) menyatakan akan menjalankan rencana evakuasi bagi lebih dari 11 ribu pelaut yang masih berada di kawasan Teluk Persia. Program tersebut didukung Iran, Oman, AS, dan negara-negara Teluk lainnya guna memastikan keselamatan pelayaran dan kelancaran distribusi energi dunia.
sumber : ANTARA

3 hours ago
6
















































