REPUBLIKA.CO.ID, PEKANBARU, – Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dari Universitas Abdurrab (Univrab) berkolaborasi dengan Sekolah Tinggi Teknologi Pekanbaru (STTP) memberikan pendampingan kepada Unit Usaha Bata Ringan Hariskon di Pekanbaru. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing usaha kecil manufaktur tanpa harus bergantung pada investasi mesin baru yang mahal.
Ketua Tim PKM dari Universitas Abdurrab, Puspa Ningrum, menegaskan bahwa peningkatan kualitas produk tidak selalu harus diawali dengan pembelian mesin baru. Ia menjelaskan bahwa usaha kecil manufaktur dapat meningkatkan daya saing melalui perubahan budaya kerja, penerapan standar mutu, dan keselamatan kerja.
"Kami sengaja tidak menawarkan teknologi yang rumit. Yang kami bangun terlebih dahulu adalah sistem kerja. Ketika standar operasional prosedur (SOP), pengendalian mutu, pencatatan usaha, dan budaya K3 berjalan, kualitas produk akan meningkat secara lebih berkelanjutan," ujar Puspa Ningrum di Pekanbaru, Kamis.
Integrasi Sistem Kerja dan Teknologi Tepat Guna
Pendekatan yang diterapkan dalam program ini mengintegrasikan peningkatan kualitas produksi, penguatan manajemen usaha, dan kesehatan lingkungan kerja dalam satu model pendampingan. Keunggulan program ini terletak pada penerapan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha kecil.
Tim pengabdian tidak hanya menyediakan alat ukur sederhana untuk pengendalian mutu. Mereka juga menyusun Standar SOP, format quality control (QC) harian, digitalisasi logbook pencatatan usaha, papan instruksi kerja, serta memberikan edukasi mengenai pentingnya penggunaan alat pelindung diri (APD).
"Pendekatan ini memungkinkan mitra membangun sistem kerja yang lebih terukur tanpa harus berinvestasi pada teknologi yang mahal," tambahnya.
Peningkatan Kesadaran Keselamatan Kerja
Salah satu perubahan signifikan yang langsung terlihat selama pendampingan adalah meningkatnya kesadaran pekerja terhadap keselamatan kerja. Pada kondisi awal, sebagian besar pekerja belum menggunakan alat pelindung diri secara lengkap.
Setelah dilakukan sosialisasi dan pendampingan intensif, para pekerja mulai menggunakan helm keselamatan, pelindung mata, sarung tangan, celemek kerja, dan sepatu pelindung saat proses produksi berlangsung. "Perubahan perilaku ini menjadi langkah awal dalam membangun budaya kerja yang lebih aman sekaligus meningkatkan profesionalisme usaha," ungkap Puspa Ningrum.
Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperkuat tata kelola usaha kecil manufaktur agar lebih siap bersaing. Model pendampingan ini diharapkan dapat direplikasi pada usaha bata ringan maupun sektor manufaktur skala kecil lainnya yang menghadapi tantangan serupa dalam menjaga konsistensi mutu produk, keselamatan kerja, dan keberlanjutan usaha.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

3 hours ago
2














































