Sering Self-Diagnose Lewat AI dan Medsos? Dokter Ingatkan Risikonya

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Seiring masifnya konten kesehatan hingga chatbot Al, self-diagnose atau swadiagnositik semakin lumrah di kalangan muda-mudi. Dokter sekaligus pendiri Health Collaborative Center (HCC), Dr dr Ray Wagiu Basrowi, mengingatkan bahwa kebiasaan swadiagnositik dapat memicu keparahan penyakit.

Berdasarkan studi HCC tahun 2026, hampir 60 persen anak muda berusia di bawah 40 tahun memilih melakukan swadiagnositik terlebih dahulu ketika mengalami keluhan kesehatan sebelum berkonsultasi dengan dokter atau fasilitas kesehatan. Tidak hanya itu, 36 persen responden anak muda mengaku langsung mengonsumsi obat secara mandiri setelah mencari informasi kesehatan. Lalu 27 persen lainnya bahkan mengabaikan resep dokter karena merasa informasi yang diperoleh dari internet atau chatbot Al sudah cukup valid.

"Ketika seseorang merasa sudah swadiagnositik, mereka cenderung membeli obat di warung atau mengonsumsi obat herbal yang belum tentu tepat dan bahkan berpotensi menimbulkan efek samping dan membuat penyakit semakin parah," kata dr Ray saat diwawancara Republika di Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Studi HCC mengungkapkan laman Google, chatbot Al, hingga konten di media sosial menjadi sumber utama swadiagnositik. Padahal menurut dr Ray, konten hingga chatbot Al sebaiknya hanya ditujukan sebagai referensi informasi, bukan untuk mendiagnosis penyakit.

Ia menekankan diagnosis medis yang akurat memerlukan pemeriksaan fisik, tes laboratorium, hingga analisis riwayat medis yang hanya bisa dilakukan oleh dokter atau tenaga medis profesional. "Sudah banyak kok penelitian yang mengatakan swadiagnositik itu pasti salah. Jadi Anda boleh melihat informasi kesehatan di Google atau chatbot Al, tapi jadikan itu sebagai skrining risiko saja, referensi, diagnosisnya tetap harus ke dokter," kata dr Ray.

Dia mengatakan, anak muda cenderung melakukan swadiagnositik ketika mengalami keluhan yang dianggap mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan yang paling banyak dicari berkaitan dengan gangguan pernapasan, kardiovaskular, pencernaan, hingga masalah psikologis.

Menurutnya, anak muda memilih mencari diagnosis sendiri karena menganggap keluhan tersebut tidak cukup serius untuk memeriksakan diri ke dokter atau puskesmas. Selain itu, proses antre dan waktu yang diperlukan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan juga dinilai merepotkan.

"Keluhan-keluhan ini dianggap sangat mengganggu, tetapi banyak yang merasa harus antre ke dokter atau puskesmas hanya membuang waktu. Perilaku ini bisa menjadi bom waktu di kemudian hari," kata dr Ray.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |