Sektor Ritel dan Industri Dorong Ekspansi Pasar Beras Fortifikasi

5 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Beras fortifikasi mulai didorong masuk ke pasar komersial yang lebih luas. Pelaku ritel dan industri menilai produk beras yang diperkaya vitamin dan mineral tersebut telah memiliki fondasi yang cukup kuat untuk berkembang di pasar nasional.

Dalam forum Millers for Nutrition: Advancing Fortified Rice in the Commercial Market, Rabu (24/6/2026), berbagai pemangku kepentingan membahas strategi untuk meningkatkan keterjangkauan dan distribusi beras fortifikasi bagi masyarakat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Dasep Suryanto mengatakan, sektor ritel siap mendukung pengembangan pasar beras fortifikasi. Namun, masih terdapat tantangan berupa perbedaan harga yang cukup lebar dibandingkan beras reguler.

“Kami di lini hilir melihat adanya kebingungan pasar karena belum tersedianya referensi harga yang jelas. Di sisi lain, kita ingin menghadirkan produk bergizi yang tetap terjangkau bagi konsumen,” kata Dasep, Rabu (24/6/2026).

Saat ini harga beras fortifikasi di jaringan ritel modern masih sekitar 20 hingga 30 persen lebih tinggi dibandingkan beras biasa. Menurut Dasep, kondisi tersebut perlu diatasi melalui efisiensi distribusi dan edukasi konsumen yang lebih masif.

APRINDO menilai ada tiga faktor penting untuk mempercepat pertumbuhan pasar beras fortifikasi, yakni kepastian regulasi, distribusi yang lebih efisien dari penggilingan ke peritel, serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai manfaat produk tersebut.

Selain itu, kemasan berukuran kecil seperti 1 kilogram dan 2,5 kilogram dinilai dapat membantu meningkatkan akses masyarakat sekaligus menekan hambatan pembelian di tingkat konsumen.

Dari sisi industri, Komisaris PT Pangan Nabati Umbi Nusantara Mirza Muttaqien menilai sektor beras fortifikasi telah memasuki fase industrialisasi yang lebih matang. Menurut dia, biaya tambahan untuk memperkaya beras dengan mikronutrien relatif kecil dibandingkan manfaat yang dihasilkan.

“Pada prinsipnya, berapa pun harga beras yang beredar di pasar, terdapat ruang bagi peningkatan nilai tambah sekitar Rp1.000 per kilogram,” ujar Mirza.

Saat ini kapasitas produksi beras fortifikasi perusahaan tersebut mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Namun, utilisasi pabrik dinilai masih dapat ditingkatkan agar biaya produksi semakin efisien dan harga jual menjadi lebih kompetitif.

Mirza mengatakan, Indonesia juga telah memiliki landasan regulasi yang cukup kuat melalui penerbitan SNI 9314 Tahun 2024 dan SNI 9372 Tahun 2025 yang mengatur standar beras fortifikasi.

“Regulasi sudah tersedia dan sistem di tingkat negara telah siap. Tantangannya sekarang adalah melakukan scale up agar industri ini dapat tumbuh lebih cepat,” kata Mirza.

Sementara itu, pelaku industri beras fortifikasi Diyan Anggraini menilai pengembangan jaringan penggilingan di berbagai daerah menjadi langkah penting untuk memperpendek rantai distribusi dan menekan biaya logistik.

“Kami membentuk jaringan penggilingan dan mendorong produksi di berbagai daerah. Dengan begitu rantai distribusi menjadi lebih pendek dan biaya logistik dapat ditekan,” ujar Diyan.

Menurut Diyan, keberhasilan pengembangan pasar beras fortifikasi akan sangat ditentukan oleh keterjangkauan harga dan kemudahan akses masyarakat terhadap produk tersebut. Karena itu, seluruh pelaku usaha didorong menjaga harga tetap terjangkau agar manfaat gizi dari beras fortifikasi dapat dirasakan lebih luas.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |