Penguatan Industri Tahu Tempe Didorong Lewat Stabilitas Pasokan dan Dukungan Pemerintah

5 hours ago 6

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tahu dan tempe telah menjadi bagian penting dari pola konsumsi masyarakat Indonesia serta sumber protein yang terjangkau bagi jutaan keluarga. Selain itu, industri tahu dan tempe juga berkontribusi terhadap perekonomian nasional melalui ribuan usaha kecil dan menengah yang tersebar di berbagai daerah.

Dalam upaya menjaga keberlanjutan industri tersebut, para pelaku usaha mengapresiasi langkah pemerintah yang terus berupaya menjaga stabilitas pasokan dan harga kedelai nasional. Salah satunya melalui penetapan Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai yang disepakati bersama antara pemerintah, pelaku usaha, importir dan perajin untuk memastikan ketersediaan bahan baku bagi industri tahu dan tempe. Saat ini, kondisi harga kedelai diberbagai wilayah Indonesia masih berada dalam rentang yang relatif stabil.

Berdasarkan data Badan Pangan Nasional (BPN) per Juni 2026, harga kedelai disejumlah wilayah masih berada dibawah batas harga yang telah disepakati untuk tingkat perajin, sehingga memberikan ruang bagi pelaku usaha untuk menjalankan kegiatan produksi secara optimal. Perwakilan Perkumpulan Penyalur Kedelai Nasional (PPKN), H. Riyanto, menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai langkah yang telah dilakukan pemerintah dalam menjaga stabilitas industri tahu dan tempe.

“Kami sangat mengapresiasi perhatian dan dukungan pemerintah terhadap industri tahu dan tempe. Upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan sangat penting untuk memberikan kepastian bagi seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok," ujar H. Riyanto. Menurutnya, selain stabilitas harga, keberlangsungan industri juga sangat ditentukan oleh kelancaran distribusi dan ketersediaan bahan baku yang berkesinambungan.

"Ketika pasokan tersedia dengan baik dan distribusi berjalan lancar, pelaku usaha dapat berproduksi secara optimal dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan," lanjut H. Riyanto menambahkan. Pandangan serupa disampaikan oleh H. Situh, pengrajin tahu dan tempe di Jakarta.

Ia menilai kondisi pasokan dan harga kedelai saat ini cukup kondusif bagi pelaku usaha. "Saat ini kami masih dapat menjalankan usaha dengan baik. Dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga memberikan kepastian bagi para pengrajin untuk terus berproduksi dan melayani kebutuhan masyarakat," jelas H. Situh.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan industri tahu dan tempe membutuhkan perhatian terhadap seluruh aspek rantai pasok, mulai dari bahan baku, kemasan, distribusi, energi hingga efisiensi operasional lain yang dapat mempengaruhi biaya produksi. "Dengan pasokan yang terjaga dan distribusi yang lancar, kami dapat lebih fokus meningkatkan kualitas produk dan menjaga keberlangsungan usaha," papar H. Situh

Selanjutnya, para pelaku industri mendukung berbagai upaya pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional melalui pengembangan produksi kedelai dalam negeri, peningkatan efisiensi rantai pasok, serta penguatan kolaborasi antara petani, penyalur, pelaku usaha dan pemerintah.

H. Riyanto menegaskan bahwa sinergi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri tahu dan tempe di Indonesia.

"Tahu dan tempe merupakan pangan strategis yang dikonsumsi masyarakat setiap hari. Oleh karena itu, kolaborasi yang kuat antara pemerintah, petani, penyalur dan pelaku usaha akan menjadi fondasi penting dalam membangun industri yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan," papar H. Riyanto.

Dengan perannya sebagai salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia, industri tahu dan tempe diharapkan terus berkembang dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Dukungan pemerintah yang diiringi dengan penguatan rantai pasok dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan diyakini akan semakin memperkuat daya tahan industri dalam menghadapi berbagai tantangan dimasa mendatang.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |