Nikmah Ridha Batubara, M.Si
Gaya Hidup | 2026-06-25 08:11:20
Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Jika dahulu manusia berjuang menghadapi keterbatasan ilmu dan teknologi, hari ini manusia justru menghadapi tantangan lain, yaitu derasnya arus informasi, perubahan nilai, dan semakin kaburnya batas antara benar dan salah.
Di tengah kemajuan yang begitu cepat, muncul berbagai persoalan sosial yang semakin sering kita saksikan. Manusia menghadapi tekanan besar dari lingkungan, budaya populer, serta standar kehidupan yang terus berubah.
Media Sosial Membentuk Standar Baru
Di antara derasnya arus informasi saat ini ditandai dengan masifnya penggunaan media sosial. Sebagian besar masyarakat hari ini mulai menjadikan media sosial sebagai salah satu rujukan dalam membentuk standar hidupnya. Gambaran tentang seseorang yang “ideal” berdasarkan media sosial dapat mempengaruhi citra diri dan rasa percaya diri. Contohnya, seseorang dikatakan cantik apabila memiliki kulit putih glowing, rambut panjang hitam lurus, mata yang indah seperti barbie, bibir yang merah merona dan lain sebagainya. Hal ini membuat perempuan disibukkan dengan skincare dan perawatan tubuhnya demi mendapat pengakuan sebagai seorang wanita yang “cantik”. Tekanan terhadap standar penampilan tidak hanya dialami oleh perempuan, tetapi juga menjadi fenomena yang semakin terlihat dalam masyarakat modern.
Selain itu ukuran sukses seseorang juga mengalami perubahan. Seperti realita yang ada pada hari ini, seseorang dikatakan sukses apabila memiliki banyak follower, semakin populer maka semakin sukses, tak perduli apakah kepopulerannya memberikan efek positif atau justru memberikan efek negatif kepada masyarakat. Gaya hidup dijadikan simbol status, maka semakin banyak orang yang berlomba-lomba menunjukkan pencapaiannya dengan makan di restoran mewah, sering nongkrong bareng teman, healing ke luar negeri dan lain sebagainya. Hal ini dilakukan demi mendapatkan pengakuan bahwa dia mampu dan kaya, tak perduli apakah uang yang didapatkan dari hasil kerja sendiri, difasilitasi orang tua ataukah dari pinjol atau malah berhutang sana-sini.
Ini hanyalah sedikit sekali dari fenomena yang bisa kita saksikan secara langsung hari ini. Mungkin mereka adalah orang terdekat kita, saudara kita, teman kita, anak kita atau bahkan, bisa jadi diri kita sendiri adalah salah satu dari orang yang sudah terpapar dengan standar yang dibuat oleh media sosial.
Apa Akar Masalahnya?
Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang menggunakan media sosial. Media sosial hanyalah sarana yang mempercepat penyebaran nilai dan pola pikir ini dalam masyarakat.
Salah satu cara pandang yang banyak mempengaruhi masyarakat adalah dengan menempatkan materi dan pencapaian duniawi sebagai titik puncak keberhasilan. Dalam sistem kapitalisme, ukuran keberhasilan manusia cenderung diarahkan pada aspek material, seperti kepemilikan, popularitas, kecantikan, prestasi akademik dan standar lainnya.
Ketika nilai-nilai agama dipisahkan dari kehidupan maka manusia akan kehilangan standar yang lebih tinggi dalam menjalani kehidupan. Manusia akan mempunyai standar yang berbeda dari apa yang sudah diatur dalam agama. Pada akhirnya penentuan benar salah, halal haram, baik buruk dapat bergeser mengikuti pertimbangan manusia semata, seperti kepentingan, keuntungan, dan manfaat yang terlihat secara materi tanpa melihat bagaimana aturan yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta Kehidupan. Pemikiran seperti ini juga perlahan akan menjauhkan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya. Inilah yang disebut dengan sekularisme, yaitu paham yang memisahkan agama dari kehidupan.
Akibat dari pemikiran sekuler ini, maka manusia akan lebih sibuk mengejar pengakuan manusia daripada mengejar keridhaan Allah SWT. Aturan hidup dari Allah SWT dikesampingkan atau bahkan dianggap sebagai penghambat untuk mencapai kebahagiaan yang diukur dari materi, popularitas dan pencapaian duniawi lainnya. Sungguh, sekularisme memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan pandangan hidup seseorang dalam menjalani kehidupan. Ketika agama tidak lagi dijadikan sebagai pedoman, maka masyarakat akan mudah terbawa arus tren yang disajikan di media sosial. Dan fakta yang kita saksikan adalah manusia semakin banyak yang mengalami krisis moral dan krisis standar hidup.
Bagaimana Islam memberikan solusi terhadap krisis standar hidup ini?
Islam memandang bahwa perubahan kehidupan manusia harus dimulai dari perubahan pemikiran. Dalam kitab Nidzamul Islam (Peraturan Hidup dalam Islam) karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dijelaskan bahwa bangkitnya manusia sangat bergantung pada pemikirannya tentang hidup, alam semesta dan manusia serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dunia dan apa yang ada sesudahnya.
Pemikiran inilah yang nantinya akan membentuk manusia dalam menentukan tujuan hidupnya dan memberikan penilaian terhadap apa yang ada di sekitarnya. Kalau pemikirannya benar, maka dia juga akan memiliki kemampuan untuk melihat mana yang bernilai dan mana yang tidak.
Karena itu, perubahan tidak bisa hanya dari tingkat perilaku saja, tapi harus ada perubahan yang mendasar dan menyeluruh pada pemikirannya. Karena pemikiran akan membentuk persepsi dan persepsi akan menentukan tingkah laku dan respon seseorang terhadap suatu hal.
Namun, perubahan pemikiran ini tidak bisa hanya sampai pada tingkat individu, tetapi juga harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat dengan peraturan yang bersumber dari Islam. Karena pemikiran yang benar membutuhkan aturan dan sistem agar tetap terjaga dan tidak terpengaruh dengan pemikiran lain yang tidak sesuai dengan Akidah Islam.
Selain itu, Islam mengatur kehidupan manusia secara keseluruhan, tidak hanya urusan ibadah dan akhlak saja. Karena itu, penerapan aturan Islam dalam kehidupan menjadi bagian dari konsekuensi ketika kita menjadikan Islam sebagai pedoman hidup. Dengan demikian, Islam tidak hanya hadir sebagai keyakinan, tetapi sebagai sistem kehidupan yang mengatur seluruh aspek kehidupan manusia. Melalui sistem tersebut, nilai-nilai Islam tidak hanya menjadi konsep, tetapi menjadi aturan yang mengarahkan kehidupan publik sehingga standar hidup masyarakat tidak lagi ditentukan oleh kepentingan manusia semata, melainkan oleh aturan Allah SWT.
Pada akhirnya, persoalan standar hidup yang dibentuk oleh media sosial bukan hanya tentang bagaimana manusia menggunakan teknologi, tetapi tentang standar apa yang dijadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Ketika manusia menjadikan penilaian manusia sebagai ukuran utama, maka kebahagiaan akan selalu bergantung pada sesuatu yang berubah-ubah. Karena itu, manusia membutuhkan standar yang lebih tinggi dan tetap, yaitu standar yang berasal dari Allah SWT. Islam hadir bukan hanya sebagai ajaran ibadah, tetapi sebagai pedoman kehidupan yang memberikan arah bagi manusia agar tidak terombang-ambing oleh perubahan zaman dan standar yang dibuat oleh manusia. Wallahua’lam bishawab.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

1 hour ago
3










































