Kekuasaan dan Politik

1 hour ago 2

Image Umar Irawan

Guru Menulis | 2026-06-25 09:59:37

Dalam kehidupan organisasi, kekuasaan dan politik merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Setiap organisasi, baik perusahaan, instansi pemerintah, sekolah, maupun lembaga sosial, selalu melibatkan hubungan antarindividu yang saling memengaruhi. Dalam hubungan tersebut, sering muncul kekuasaan dan perilaku politik sebagai bagian dari dinamika organisasi. Oleh karena itu, memahami kekuasaan dan politik organisasi menjadi penting agar seseorang mampu bersikap secara tepat dalam lingkungan kerja.

Pengertian Kekuasaan

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi perilaku orang lain agar bertindak sesuai dengan keinginan atau tujuan tertentu. Dalam organisasi, kekuasaan digunakan untuk mengarahkan bawahan, memengaruhi keputusan, serta memastikan tujuan organisasi dapat tercapai.

Kekuasaan tidak selalu harus digunakan secara nyata. Seseorang dapat memiliki kekuasaan hanya karena posisinya, pengetahuannya, atau hubungan yang dimilikinya. Intinya, kekuasaan muncul ketika ada pihak lain yang bergantung pada seseorang.

Pengertian Politik Organisasi

Politik organisasi adalah usaha individu atau kelompok untuk memengaruhi keputusan dan tindakan dalam organisasi demi mencapai kepentingan tertentu, baik untuk kepentingan pribadi maupun kepentingan organisasi.

Politik organisasi tidak selalu negatif. Politik bisa menjadi positif jika digunakan untuk mendukung tujuan organisasi. Namun, politik menjadi negatif jika hanya dipakai untuk kepentingan pribadi, menjatuhkan orang lain, atau memanipulasi situasi demi keuntungan diri sendiri.

Kekuasaan pada dasarnya adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi perilaku orang lain agar bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan. Dalam organisasi, kekuasaan tidak hanya dimiliki oleh pimpinan, tetapi juga dapat dimiliki oleh siapa saja yang memiliki pengetahuan, informasi, hubungan, atau keahlian tertentu. Misalnya, seorang manajer memiliki kekuasaan karena jabatannya, sedangkan seorang staf ahli memiliki kekuasaan karena kompetensi dan pengetahuannya. Dengan kata lain, kekuasaan tidak selalu identik dengan jabatan, tetapi juga bisa berasal dari kualitas pribadi seseorang.

Sumber kekuasaan dalam organisasi sangat beragam. Ada kekuasaan koersif yang muncul dari kemampuan memberikan hukuman, kekuasaan legitimasi yang berasal dari jabatan, kekuasaan penghargaan yang berasal dari kemampuan memberi hadiah, kekuasaan pakar karena keahlian, kekuasaan referensi karena kharisma dan kepribadian, kekuasaan informasi karena penguasaan informasi penting, serta kekuasaan koneksi yang berasal dari jaringan hubungan. Ketujuh sumber kekuasaan ini menunjukkan bahwa pengaruh seseorang dalam organisasi tidak hanya dibangun dari posisi formal, tetapi juga dari kapasitas personal dan sosial yang dimilikinya.

Selain kekuasaan, organisasi juga tidak lepas dari politik. Politik organisasi adalah upaya individu atau kelompok untuk memengaruhi keputusan dan tindakan dalam organisasi demi mencapai kepentingan tertentu. Politik organisasi sebenarnya tidak selalu buruk. Politik dapat menjadi alat yang positif ketika digunakan untuk memperjuangkan ide yang bermanfaat, membangun kerja sama, atau membantu organisasi mencapai tujuannya. Akan tetapi, politik dapat menjadi negatif apabila dilakukan secara manipulatif, menjatuhkan rekan kerja, menyembunyikan informasi, atau hanya mengejar kepentingan pribadi.

Perilaku politik dalam organisasi biasanya dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor individu dan faktor organisasi. Dari sisi individu, perilaku politik dapat muncul karena adanya ambisi, kebutuhan akan kekuasaan, keinginan memperoleh pengakuan, dan keyakinan bahwa dirinya mampu mengendalikan situasi. Sementara itu, dari sisi organisasi, perilaku politik sering dipicu oleh budaya organisasi yang kurang sehat, rendahnya kepercayaan antaranggota, ketidakjelasan peran, persaingan yang ketat, serta perubahan organisasi yang menimbulkan ketidakpastian.

Dalam praktiknya, perilaku politik dapat terlihat melalui berbagai taktik, seperti menyerang atau menyalahkan orang lain, memanfaatkan informasi sebagai alat politik, membangun citra diri yang baik, membentuk koalisi, mencari dukungan dari orang berpengaruh, serta menciptakan rasa utang budi. Taktik-taktik tersebut dapat digunakan untuk mempertahankan posisi, memperoleh dukungan, atau memenangkan persaingan dalam organisasi. Namun, apabila digunakan secara berlebihan, taktik politik dapat menimbulkan konflik, menurunkan kepercayaan, dan merusak suasana kerja.

Salah satu bentuk perilaku politik yang sering muncul adalah manajemen kesan. Manajemen kesan adalah upaya seseorang untuk membentuk citra positif di hadapan orang lain, terutama atasan dan rekan kerja. Misalnya, seseorang berusaha terlihat rajin, sopan, bertanggung jawab, atau kompeten agar memperoleh penilaian yang baik. Dalam batas tertentu, manajemen kesan dapat membantu seseorang menampilkan potensi terbaiknya. Namun, jika dilakukan secara berlebihan dan tidak sesuai kenyataan, hal ini dapat berubah menjadi manipulasi.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa kekuasaan dan politik merupakan bagian alami dari kehidupan organisasi. Keduanya dapat membawa dampak positif jika digunakan secara etis dan diarahkan untuk kepentingan bersama. Sebaliknya, jika digunakan secara tidak sehat, kekuasaan dan politik justru dapat menimbulkan konflik, persaingan tidak sehat, dan penurunan kinerja organisasi. Oleh sebab itu, setiap individu dalam organisasi perlu memahami cara menggunakan kekuasaan secara bijak, menjaga etika dalam berpolitik, serta membangun hubungan kerja yang sehat agar tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif.

Kesimpulan

Kekuasaan dan politik merupakan bagian penting dalam kehidupan organisasi. Kekuasaan digunakan untuk memengaruhi perilaku orang lain agar tujuan organisasi tercapai, sedangkan politik organisasi berkaitan dengan usaha memengaruhi keputusan untuk mencapai kepentingan tertentu. Kekuasaan dapat berasal dari jabatan, keahlian, penghargaan, informasi, hingga jaringan hubungan. Sementara itu, perilaku politik muncul karena faktor individu maupun faktor organisasi. Jika dikelola dengan baik, kekuasaan dan politik dapat menjadi alat untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif. Namun jika disalahgunakan, keduanya dapat menimbulkan konflik, ketidakadilan, dan merusak suasana kerja.

Disusun oleh : Umar Dwi Irawan, Muhammad Akhasyah, Siti Nurohmah.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |