Dilema Sarjana Pendidikan: Memilih Jadi Apa Saja Asal Bukan Guru

1 hour ago 2

Image Nur Hidayani Aulia Wati

Pendidikan | 2026-06-25 09:09:55

Foto mahasiswa pendidikan tengah menjalani perkuliahan. Sumber: Dokumentasi pribadi

Tidak semua orang paham akan arah karier ke depannya ketika lulus kuliah. Hal tersebut bukanlah hal baru karena nyatanya banyak mahasiswa dari berbagai jurusan belum benar-benar memahami prospek kerja bidang mereka setelah duduk di bangku kuliah. Hal serupa juga dialami oleh sarjana-sarjana dari jurusan kependidikan. Banyak orang-orang yang kuliah di jurusan tersebut berekspektasi bahwa ketika lulus akan menjadi guru. Namun, pada akhirnya, mereka menyadari bahwa profesi tersebut bukanlah yang mereka inginkan.

Kesadaran ini biasanya tidak muncul sejak awal, melainkan terbentuk sedikit demi sedikit seiring berjalannya masa perkuliahan. Mereka akan menemukan bidang lain yang justru mereka minati sesungguhnya. Biasanya kesadaran ini perlahan-lahan akan mendorong mereka untuk mencoba hal-hal di luar disiplin ilmu kependidikan, dimulai dari ikut organisasi di bidang nonakademik, internship di industri kreatif, serta membangun personal branding di media sosial. Eksplorasi itulah yang lambat laun akan membentuk arah minat karir baru yang semakin jauh dari profesi guru. Dengan demikian, ketika lulus dari jurusan kependidikan tersebut, profesi sebagai pendidik bukanlah pilihan yang terlintas di benak mereka.

Terdapat 2 faktor yang membuat mereka enggan memilih menjadi tenaga pendidik di antaranya yang pertama yaitu minat yang memang tidak murni sejak awal. Tidak semua orang yang masuk jurusan kependidikan benar-benar ingin menjadi seorang guru, tetapi dikarenakan alasan lain yang berkaitan dengan motivasi diri di mana dorongan yang murni itu seharusnya berasal dari dalam diri seseorang bukan sekedar ikut arus atau memenuhi ekspektasi orang lain. Banyak dari mereka yang masuk ke jurusan kependidikan karena saran orang tua atau passing grade rendah. Jadi, mereka tidak memiliki keterikatan emosional sejak awal dan memiliki motivasi yang lemah sehingga hasrat untuk benar-benar terjun ke dunia mengajar pun akan memudar perlahan-lahan seiring berjalannya perkuliahan.

Adapun faktor kedua yang tidak kalah pentingnya yaitu realitas kesejahteraan dan birokrasi profesi guru yang jauh dari kata sederhana. Jalan menjadi seorang guru tidaklah semudah profesi lain. Sejak awal, proses pengangkatannya saja sudah berbelit karena status kepegawaian yang berjenjang sampai persaingan kuota yang sangat ketat di setiap penerimaannya. Ketika sudah benar-benar menjalani profesi guru, beban kerjanya tidak berhenti di ruang kelas saja untuk mengajar, melainkan dituntut juga untuk mengurus berbagai tugas administrasi. Ketika memasuki masa-masa akhir karier sekalipun, urusan birokrasi tak kunjung usai.

Proses pengajuan pensiun maupun perpanjangan masa kerja bagi guru kerap kali sulit karena syarat administratif yang panjang. Maka dari itu, realitas inilah yang pada akhirnya membentuk persepsi di kalangan calon guru bahwa profesi menjadi seorang pendidik dituntut untuk siap dalam menghadapi sistem yang rumit di setiap tahapannya dimulai dari awal melamar, saat menjalani tugas, hingga menjelang purna tugas.

Pada akhirnya, fenomena dilema sarjana pendidikan menjadi guru ini muncul karena dua sisi yang saling berkaitan yaitu motivasi diri yang sejak awal memang tidak murni datang dari hasrat untuk mengajar dan realitas profesi guru yang dirasa belum cukup menjanjikan untuk diperjuangkan. Keduanya saling menguatkan satu sama lain, hingga akhirnya membentuk mindset bahwa menjadi guru bukanlah pilihan karier. Ironisnya, bangsa ini terus menggaungkan pentingnya pendidikan berkualitas, tetapi lupa bahwa kualitas itu dimulai dari seberapa layak kita memperlakukan orang-orang yang dididik untuk mendidik.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |