Binokular: Pemberitaan Media soal Demo Juni Didominasi Sentimen Negatif

4 hours ago 6

LEMBAGA pelacakan dan analisis informasi Binokular Media Monitoring merilis hasil riset percakapan tentang sorotan dan distribusi argumen publik, ihwal demo mahasiswa dan elemen masyarakat sepanjang 11-23 Juni lalu.

Manajer News Analytics Newstensity Binokular, Nicko Mardiansyah, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan Binokular mencatat ada 16.428 artikel yang diterbitkan media massa mengenai demonstrasi pada periode 11-23 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Dari jumlah tersebut, pemberitaan dengan sentimen negatif mencapai 9.064 artikel atau55 persen," kata Nicko dalam keterangan tertulis, Kamis, 25 Juni 2026.

Dia melanjutkan, riset Binokular juga mencatatkan pemberitaan positif demonstrasi sebanyak 6.719 artikel atau 41 persen, diiringi pemberitaan netral dengan 645 artikel atau sekitar 4 persen dari total jumlah.

Menurut dia, dominasi sentimen negatif menunjukkan media massa lebih banyak memberi ruang pada aspek kritik, kontroversi, tanggapan kebijakan, dan tekanan terhadap pemerintah maupun lembaga negara.

Namun, porsi sentimen positif yang cukup besar juga menunjukkan adanya pemberitaan yang menempatkan demonstrasi sebagai bagian dari penyampaian aspirasi publik dan dinamika demokrasi.

Nicko menegaskan, dominannya sentimen negatif dalam konteks media massa tidak dapat prematur dibaca sebagai penolakan terhadap demonstrasi mahasiswa. Pembacaan terhadap sentimen ini diperlukan kehati-hatian untuk mencegah kekeliruan substansi.

"Sentimen negatif muncul karena pemberitaan memuat kritik, kekhawatiran, polemik kebijakan, atau catatan terhadap tanggapan institusi," ujar dia.

Merujuk hasil riset Binokular, kata dia, puncak pemberitaan dengan sentimen negatif memasuki puncaknya pada 12 Juni 2026 atau saat BEM UI dan aliansi menggelar demonstrasi di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia.

Pada periode itu, Binokular mencatat ada 3.330 artikel sebelum mengalami fase fluktuatif. Pada 15 Juni 2026, pemberitaan mengalami peningkatan dengan mencatat ada 2.761 artikel demonstrasi yang diterbitkan media massa.

"Pemberitaan media massa memperlihatkan demonstrasi mahasiswa tidak berdiri sebagai agenda tunggal. Isu ini terhubung dengan tanggapan pemerintah, pernyataan pejabat, tuntutan, serta cara aparat dan institusi publik menanggapi aspirasi," ucapnya.

Kelindan demonstrasi mahasiswa, dia menambahkan, dapat dilihat pula pada hasil pemantauan percakapan di media sosial. Binokular mencatat, demonstrasi BEM UI, Trisakti, Esa Unggul, dan berbagai elemen mahasiswa lain menjadi top isu dengan mencatatkan 14.035 percakapan.

Isu berikutnya yang memperoleh perhatian tinggi, yakni pernyataan Menteri Agama Nasaruddin Umar mengenai harapan demonstrasi berlangsung santun. Pernyataan ini mencatatkan 7.232 percakapan.

"Pernyataan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya mengenai harga Pertamax di Indonesia lebih murah dibanding di negara lain menempati urutan kelima dengan 5.149 percakapan," ujar Nicko.

Menurut dia, rangkaian isu yang menjadi diskursus utama di media sosial menunjukkan, jika demonstrasi mahasiswa berkembang menjadi percakapan berlapis. Data memperlihatkan, publik tidak hanya membicarakan mereka yang berdemonstrasi.

Tetapi, kata Nicko, percakapan juga bergerak ke arah bagaimana pejabat negara menanggapi, sikap aparat keamanan dalam pengamanan, hingga bagaimana tuntutan mahasiswa dikaitkan dengan isu ekonomi maupun kebijakan pemerintah.

"Kelindan ini menunjukkan isu demonstrasi tidak hanya diposisikan sebagai peristiwa lapangan, tapi juga ruang pertarungan narasi antara aspirasi mahasiswa, tanggapan dan sikap negara, serta perhatian publik," katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |