Krisis Energi, Tenaga Surya Jadi Penyelamat Internet Afrika

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, NAIROBI — Lonjakan harga bahan bakar akibat ketegangan geopolitik global mulai mengubah lanskap industri telekomunikasi di Afrika. Operator seluler di berbagai negara kini mempercepat migrasi energi dengan mengurangi ketergantungan pada diesel dan beralih ke tenaga surya untuk menjaga keberlanjutan layanan jaringan.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memicu gejolak pasokan energi dunia, termasuk kenaikan tajam harga diesel yang selama ini menjadi sumber listrik utama ratusan ribu menara telekomunikasi di Afrika. Bagi kawasan yang masih menghadapi keterbatasan jaringan listrik nasional, tekanan biaya energi langsung berpengaruh terhadap stabilitas konektivitas digital.

Di Afrika, menara seluler sering menjadi infrastruktur vital bagi layanan keuangan digital, pendidikan, hingga komunikasi darurat. Ketika harga bahan bakar melonjak, risiko gangguan layanan tidak hanya berdampak pada perusahaan telekomunikasi, tetapi juga aktivitas ekonomi masyarakat.

Pakar energi Afrika dari organisasi industri operator seluler global, GSMA, Lande Abudu mengatakan ketidakpastian harga dan pasokan energi memaksa perusahaan meninjau ulang strategi operasional. “Diesel selalu menjadi komponen biaya utama, tetapi peristiwa global baru-baru ini membuatnya jauh lebih fluktuatif, hal ini memperkuat argumen untuk segera beralih ke solusi hibrida dan tenaga surya,” kata Abudu, dikutip dari Qatar-Tribune, Ahad (3/5/2026).

Secara historis, sebagian besar menara telekomunikasi Afrika bergantung pada generator diesel karena keterbatasan infrastruktur listrik nasional. Berbeda dengan negara maju seperti Amerika Serikat atau India yang menaranya terhubung langsung ke jaringan listrik, banyak operator Afrika harus memproduksi listrik sendiri untuk menjaga operasional jaringan.

Respons industri mulai terlihat melalui investasi energi terbarukan. Perusahaan infrastruktur Atlas Tower Kenya mengumumkan investasi 52,5 juta dolar AS atau sekitar Rp840 miliar untuk membangun 300 menara baru berbasis tenaga surya. Saat ini, 82 persen dari 500 menara perusahaan tersebut telah menggunakan energi matahari.

Operator lain juga menghadapi tekanan biaya energi. Vodacom Afrika melaporkan biaya energi meningkat 5 persen menjadi 300 juta dolar AS pada 2025 akibat kenaikan tarif listrik dan bahan bakar di wilayah operasinya yang meliputi Afrika Selatan, Mesir, hingga Ethiopia.

Langkah mitigasi dilakukan melalui pembiayaan hijau. Safaricom menghimpun dana obligasi hijau senilai 153,6 juta dolar AS untuk mempercepat konversi menara ke energi surya. Di Nigeria, tekanan lebih besar muncul setelah penghapusan subsidi bahan bakar pada 2023, ditambah lonjakan harga global yang membuat harga diesel naik hingga 200 persen dalam satu tahun. Operator di negara tersebut diperkirakan menghabiskan sekitar 400 juta dolar AS per tahun hanya untuk menjaga menara tetap beroperasi.

Energi bahkan menyumbang hingga 60 persen biaya operasional menara di wilayah off-grid. Selain mahal, distribusi diesel ke daerah terpencil menghadapi berbagai risiko seperti medan berat, pencurian bahan bakar, hingga kerusakan generator.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |