Erdogan Desak Solusi Diplomasi untuk Isu Nuklir Iran, Sementara Ketegangan AS-Iran Memanas

1 day ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, ISTANBUL — Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa diplomasi merupakan satu-satunya solusi yang tepat untuk menyelesaikan isu nuklir Iran. Pernyataan ini disampaikan saat bertemu Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, di Istanbul pada Jumat (30/1). Erdogan juga menyatakan kesiapan Ankara untuk mendukung segala upaya konstruktif ke arah tersebut.

Dalam pertemuan itu, Erdogan menyampaikan salam hangat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan Presiden Masoud Pezeshkian. Ia menekankan keyakinannya pada kemampuan rakyat Iran untuk mengatasi kesulitan dengan semangat persatuan nasional.

Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran telah lama diwarnai ketegangan yang mendalam, terutama menyusul keluarnya AS dari Perjanjian Nuklir Iran (JCPOA) pada 2018. AS kembali memberlakukan sanksi ekonomi yang berat, sementara Iran secara bertahap mengurangi ketaatannya terhadap batasan program nuklir dalam perjanjian. Dinamika ini menciptakan siklus konfrontasi yang terus meningkat.

Eskalasi militer terbaru dipicu oleh laporan intelijen AS yang menyebutkan percepatan pengayaan uranium Iran mendekati tingkat senjata. Menanggapi hal ini, Gedung Putih memperkuat postur militernya di kawasan Timur Tengah. Sebuah armada laut AS yang dipimpin oleh kapal induk telah bergerak mendekati perairan di sekitar Teluk Persia.

Armada tersebut dilaporkan dikerahkan sebagai "sinyal pencegahan" dan "persiapan operasional" menghadapi kemungkinan konflik. Menteri Pertahanan AS dalam pernyataan terpisah menegaskan bahwa "semua opsi ada di atas meja" untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, sekaligus menanggapi ancaman terhadap sekutu AS di kawasan.

Iran menanggapi pergerakan militer AS dengan peringatan keras. Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran, Laksamana Alireza Tangsiri, menyatakan bahwa seluruh kapal perang AS di kawasan berada dalam jangkauan rudal dan sistem drone Iran. "Lautan bisa menyala kapan saja," ujarnya dalam pidato yang disiarkan televisi pemerintah.

Pemerintah Iran juga menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai dan bahwa negara itu siap membalas secara "tegas dan luas" terhadap segala serangan militer. Pejabat Iran menganggap kehadiran militer AS sebagai provokasi dan pelanggaran kedaulatan regional.

Dalam situasi ini, Turkiye, sebagai anggota NATO sekaligus negara dengan hubungan historis dengan Iran, berusaha menjalankan peran penengah. Erdogan secara konsisten mendorong dialog langsung antara Washington dan Teheran, menawarkan Istanbul sebagai lokasi netral untuk negosiasi. Namun, upaya ini hingga kini belum menunjukkan titik terang.

Pertemuan Erdogan dengan Araghchi terjadi di tengah makin runcingnya situasi. Komunitas internasional, termasuk PBB dan Uni Eropa, telah mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri dan kembali ke jalur diplomasi. Kekhawatiran utama adalah bahwa satu insiden kecil di lapangan, di laut ataupun di udara, dapat memicu konflik terbuka yang konsekuensinya akan meluas ke seluruh kawasan.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |