REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai Indonesia memiliki modal demografi yang kuat untuk menguasai pasar wisata halal global. Kemenpar mencatat Indonesia berkontribusi terhadap 11,3 persen populasi Muslim dunia, 17 persen populasi Muslim Asia, dan 86 persen populasi Muslim ASEAN.
Posisi tersebut menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai pasar, tetapi ekosistem alami bagi pengembangan pariwisata ramah muslim yang berdaya saing global. Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Enik Ermawati menegaskan, kekuatan demografi tersebut perlu diolah menjadi strategi ekonomi nasional. Menurutya, dengan sekitar 248 juta penduduk muslim atau 87 persen dari total populasi, Indonesia memiliki keunggulan struktural untuk menarik arus wisatawan muslim dunia sekaligus merebut belanja global sektor pariwisata halal.
“Seharusnya kita tidak menjadi target pasar. Seharusnya kita yang menjadi center of tourism industry, Muslim tourism industry,” kata yang akrab disapa Ni Luh Puspa dalam acara Kadin, beberapa hari lalu, dikutip pada Ahad (1/2/2026).
Kemenpar memandang pariwisata ramah Muslim sebagai bagian dari kebijakan pariwisata inklusif nasional. Konsep ini dirancang tanpa mengubah karakter destinasi, tradisi, dan kearifan lokal yang menjadi kekuatan utama pariwisata Indonesia, dengan penekanan pada peningkatan standar layanan yang selaras dengan kebutuhan wisatawan Muslim.
Ni Luh Puspa menjelaskan layanan ramah Muslim menjadi instrumen penguatan daya saing pariwisata sekaligus penggerak ekonomi nasional. Pendekatan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pariwisata Indonesia yang menitikberatkan kualitas layanan, dampak ekonomi, serta pemerataan manfaat, bukan semata mengejar jumlah kunjungan dan devisa.
“Pariwisata ramah Muslim ini tidak berarti mengubah karakter destinasi. Kita tetap dengan local wisdom, tetapi memperkuat standar layanan yang ramah terhadap Muslim traveler,” ujarnya.
Berdasarkan proyeksi Global Muslim Travel Index, jumlah wisatawan muslim dunia pada 2030 diperkirakan mencapai 245 juta orang dengan total belanja sekitar 235 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Pertumbuhan pasar ini didorong perubahan profil wisatawan Muslim yang semakin muda, mandiri, serta berorientasi pada pengalaman bermakna, keamanan, dan keberlanjutan.
Data Kemenpar menunjukkan populasi Muslim global pada 2025 mencapai 2,19 miliar jiwa atau 26 persen dari populasi dunia dan diproyeksikan meningkat menjadi 2,5 miliar jiwa pada 2035. Sekitar 70 persen populasi tersebut berusia di bawah 40 tahun dan lebih dari dua pertiganya berada di kawasan Asia, menjadikan wilayah ini strategis bagi pengembangan pariwisata ramah Muslim Indonesia.
Kementerian Pariwisata mengembangkan pariwisata ramah Muslim melalui penyediaan layanan tambahan, seperti ketersediaan tempat ibadah, kuliner halal, akomodasi ramah Muslim, paket wisata tematik, serta pemandu wisata berkompeten. Fokus diarahkan pada pemenuhan kebutuhan praktis wisatawan selama perjalanan, bukan sekadar pelabelan halal.
Ni Luh Puspa menekankan penguatan ekosistem dilakukan melalui adaptasi, inovasi, dan kolaborasi lintas sektor. Kemenpar berperan menyusun pedoman layanan dasar pariwisata ramah Muslim bersama Bappenas dan Bank Indonesia, memperkuat kesiapan industri, serta mengorkestrasi sinergi antara pemerintah pusat, daerah, industri, dan lembaga keuangan syariah.
“Pariwisata ramah Muslim ini bukan agenda sektoral, melainkan strategi nasional untuk memperkuat ekonomi dan daya saing Indonesia secara global,” tuturnya.
Melalui peluncuran Indonesia Muslim Travel Index 2025, pemerintah juga menetapkan 15 provinsi unggulan ramah muslim sebagai acuan pengembangan destinasi berbasis standar global. Langkah ini dipadukan dengan percepatan sertifikasi halal di desa wisata serta penguatan akses pembiayaan syariah bagi pelaku usaha pariwisata.
Pengembangan pariwisata ramah Muslim diarahkan sebagai instrumen pemerataan ekonomi berbasis destinasi dan penciptaan lapangan kerja lokal. Dengan pendekatan terukur dan kolaboratif, pemerintah menargetkan Indonesia tampil sebagai destinasi pariwisata ramah Muslim dunia yang inklusif, berkelanjutan, dan kompetitif.

1 hour ago
1

















































