Dua Pabrik Baru LPG Bakal Beroperasi Akhir Bulan Ini

3 hours ago 1

KEPALA Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan ada 2 pabrik Liquefied Petroleum Gas (LPG) yang akan beroperasi pada akhir bulan ini. Pabrik tersebut berada di Cilamaya, Jawa Barat; dan Tuban, Jawa Timur.

“Lebih kurang 200 metrik ton per hari (perkiraan produksi), April ini bisa diresmikan,” katanya dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Rabu, 8 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Berdasarkan data yang dipaparkan Djoko, LPG Plant Cilamaya yang dibangun PT Energi Nusantara Perkasa diperkirakan memproduksi 163 metrik ton per hari. Sementara LPG Plant Tuban yang dibangun PT Sumber Aneka Gas diperkirakan memproduksi 30 metrik ton per hari.

Pembangunan LPG Plant Cilamaya sudah 92,9 persen dan telah dilakukan uji coba fasilitas feed gas line, lean gas line, dan flare system. Saat ini masih menyelesaikan instalasi di area proses LPG, jalur pipa produk dan terminal unloading LPG dan kondensat. Di LPG Plant Tuban saat ini sedang dalam proses uji coba fasilitas.

Djoko mengatakan akan ada pembangunan LPG Plant Jambi Merang di Jambi yang direncanakan beroperasi pada kuartal II 2027, dengan kapasitas produksi 320 metrik ton per hari. Selain itu, bulan depan akan dimulai pembangunan LPG Plant Senoro di Sulawesi Tengah yang diperkirakan dapat memproduksi 54 metrik ton per hari.

Di Jawa Timur juga akan dibangun LPG Plant dengan kapasitas produksi 50 metrik ton per hari dengan target operasi pada 2027. “Insya Allah bapak presiden juga direncanakan untuk meresmikan pabrik-pabrik LPG ini,” tutur Djoko.

Meskipun ada tambahan produksi dalam negeri, namun kebutuhan LPG masih didominasi impor. Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisja mengatakan kebutuhan LPG nasional sebesar 25 ribu metrik ton per hari pada 2025. Lalu naik menjadi 26 ribu metrik ton per hari pada Januari-Februari 2026.

“Dengan adanya kendala di Selat Hormuz, maka negara-negara selain dari Timur Tengah menjadi alternatif paling dominan untuk importasi LPG di tahun 2026,” ujar Rizwi dalam rapat yang sama.

Menurut data Kementerian ESDM, Indonesia paling banyak mengimpor LPG dari Amerika Serikat sebesar 70,07 persen pada 2025, lalu disusul Uni Emirat Arab (11,88 persen), Qatar (11,84 persen), dan Kuwait (2,43 persen). Pada tahun ini hingga 1 April, impor masih paling banyak dari Amerika Serikat (68,91 persen), Uni Emirat Arab (11,83 persen), Arab Saudi (7,36 persen), dan Qatar (5,21 persen).

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |