Brawijaya Hospital Tawarkan Opsi Regenerasi Alami Melalui Stem Cell

3 hours ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dunia kedokteran saat ini mengalami pergeseran paradigma yang cukup signifikan. Jika selama ini penanganan medis didominasi oleh penggunaan obat-obatan kimia atau tindakan agresif di meja bedah, kini fokus mulai bergeser ke arah longevity medicine dan terapi regeneratif.

Pendekatan modern ini dinilai tidak lagi sekadar meredakan gejala, melainkan memicu kemampuan alami tubuh untuk menyembuhkan dan memperbaiki dirinya sendiri dari dalam. Kondisi ini mendorong Brawijaya Hospital Group untuk meluncurkan Brawijaya Regenerative Stem Cell Center. Pusat layanan terbaru yang kini dapat diakses di seluruh jaringan rumah sakit Brawijaya ini, mengintegrasikan teknologi sel hidup (stem cell) dan secretome (zat aktif pembawa sinyal pertumbuhan sel) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di bidang estetika, bedah plastik, dan orthopedi.

“Kami mengintegrasikan teknologi regeneratif tercanggih dengan satu misi yaitu meningkatkan kualitas hidup pasien secara nyata melalui penyembuhan di tingkat seluler. Didukung tim ahli tersertifikasi dan standar keamanan yang ketat, kami berkomitmen menjadi pusat keunggulan medis berstandar global bagi setiap pasien,” ujar Presiden Direktur Brawijaya Hospital Group, Devin Wirawan. 

Di bidang estetika dan bedah plastik, pemanfaatan teknologi stem cell atau sel punca disebut membawa perubahan besar pada cara pandang merawat diri. Dokter spesialis bedah plastik dan estetik, dr Tasya Anggrahita, Sp.BP-RE, Subsp. E.L (K), mengatakan penanganan kecantikan telah melewati beberapa fase evolusi. Dulu, masalah kulit cenderung ditutupi dengan kosmetik luar. Kemudian masuk ke era aesthetic medicine yang fokus memperbaiki jaringan yang sudah terlanjur rusak dari luar.

“Sekarang, kita masuk era longevity medicine. Kita memperhatikan bagaimana tubuh bisa sehat dan beregenerasi dengan baik, sehingga mampu melambat efek penuaan,” ujar dr Tasya di Jakarta pada Kamis (18/6/2026).

Proses penuaan kulit wajah dipicu oleh banyak faktor kompleks, terutama penurunan ekspresi genetik, perusakan kolagen, penurunan hormon, serta gaya hidup yang kurang sehat seperti merokok, pola makan buruk, polusi, hingga kurang tidur. Waktu tidur yang kurang membuat sel kehilangan kesempatan emas untuk memulihkan diri, sehingga sel menjadi cepat rusak. Dampak kasat matanya, kulit wajah yang tadinya terlihat segar dan plumpy di usia muda, akan mulai mengendur secara masif saat memasuki usia di atas 50 tahun.

Secara alami, jika ada sel tubuh yang rusak atau menua, ia akan mengirimkan sinyal agar sel punca di dalam tubuh datang memperbaiki kerusakan tersebut. Terapi penambahan stem cell dari luar berfungsi sebagai pasokan bantuan untuk mempercepat pemulihan tersebut.

“Dibandingkan terapi skin booster lain seperti salmon DNA, terapi berbasis stem cell menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif. Ia bekerja dengan mendukung regenerasi jaringan dari dalam, memperbaiki kerusakan di tingkat sel, dan menghasilkan growth factor (faktor pertumbuhan) yang berperan dalam perbaikan dan peremajaan jaringan,” kata dr Tasya. Dalam praktiknya, terapi ini diaplikasikan untuk peremajaan kulit (face rejuvenation), mengatasi kebotakan rambut (alopecia), perbaikan kontur wajah, hingga membantu penyembuhan jaringan pada kasus luka bakar kronis.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |