Gen Z Mulai Enggan Jadi Guru? Ini Strategi PD-PGMI Lawan Krisis Minat Guru

4 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Minat generasi muda, khususnya Gen Z dan Alpha, untuk menekuni profesi sebagai guru disebut menunjukkan tren penurunan. Menanggapi fenomena ini, Pengurus Pusat PD-PGMI Indonesia mengambil langkah proaktif dengan menggelar Seminar Nasional dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Kegiatan yang berlangsung secara daring pada 1 Mei 2026 ini menjadi ruang dialektika bagi para pemangku kebijakan dan akademisi untuk membedah masalah sekaligus merumuskan strategi penguatan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Tujuannya yaitu memastikan profesi guru kembali menjadi pilihan utama yang membanggakan bagi talenta-talenta terbaik negeri.

Salah satu sorotan datang dari Ketua Umum PD-PGMI Indonesia, Dr Andi Prastowo, M.Pd.I. Ia mengidentifikasi wajah pendidikan saat ini sedang berhadapan dengan tembok persepsi yang kurang menguntungkan di mata generasi muda. Menurutnya, citra profesi guru perlu dipoles ulang agar relevan dengan ekspektasi zaman.

“Persepsi rendahnya kesejahteraan dan tingginya beban administratif menjadi faktor utama yang membuat profesi guru kurang diminati,” ujar Dr Andi dalam keterangan tertulis Republika pada Selasa (5/5/2026).

Ia meyakini perubahan tidak bisa terjadi hanya dengan imbauan, melainkan melalui perubahan identitas institusi yang mencetaknya. “Diperlukan rebranding Prodi PGMI sebagai pencetak pemimpin pendidikan masa depan yang adaptif terhadap teknologi dan memiliki daya saing global,” ujarnya.

Menurut Dr Andi, transformasi ini harus menyentuh hingga ke akar kurikulum. Lulusan PGMI masa kini dinilai tidak boleh hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi harus mampu menjadi arsitek pembelajaran digital.

“Penguatan kurikulum berbasis outcome, integrasi teknologi pendidikan, serta peningkatan literasi digital dan kompetensi global mahasiswa menjadi kunci,” kata dia.

Ia memiliki visi besar agar setiap alumnus PGMI memiliki karakter multidimensi. Lulusan PGMI diharapkan tidak hanya siap mengajar, tetapi juga mampu berinovasi dalam dunia pendidikan.

Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Sahiron Samsudin, M.A., memberikan angin segar dengan menegaskan pentingnya posisi strategis Prodi PGMI dalam peta pendidikan nasional. “Penguatan Prodi PGMI sangat penting untuk memastikan tersedianya guru kelas yang berkualitas bagi Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar di masa depan,” ujar Prof Sahiron.

Namun, ia menyadari bahwa jaminan kualitas saja tidak cukup jika akses pekerjaan masih terhambat oleh sekat-sekat administratif yang bersifat diskriminatif. Dia menjanjikan keberpihakan kementerian terhadap hak-hak lulusan PGMI agar memiliki kesempatan yang setara di pasar kerja nasional.

“Tidak boleh lagi ada diskriminasi terhadap lulusan PGMI. Kami berkomitmen untuk terus memfasilitasi penerimaan lulusan PGMI secara luas, dan jika masih terdapat ketidakadilan, akan kami koordinasikan dengan kementerian terkait agar dapat diselesaikan secara tuntas,” ujarnya.

Kasubtim Mutu Akademik pada Subdirektorat Pengembangan Akademik Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Kemenag RI, Fatkhu Yasik, S.Pd., M.Pd., menekankan program studi harus lebih lincah dan berani berinovasi dalam struktur akademiknya.

Fatkhu Yasik memandang bahwa peluang kerja sama internasional dan fleksibilitas pembelajaran adalah instrumen daya saing yang mutlak dimiliki.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |