Kolaborasi Sutradara Asia Tenggara di Next Step Studio

5 hours ago 3

PROGRAM Next Step Studio menghadirkan empat film pendek yang digarap oleh empat sutradara asal Tanah Air dengan co-sutradara dari negara-negara di Asia Tenggara. Program yang dijalankan oleh rumah produksi KawanKawan Media ini akan ditayangkan di 65th edition of La Semaine de la Critique, Cannes Film Festival di Prancis.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Produser Yulia Evina Bhara yang juga merupakan anggota juri La Semaine de la Critique mengatakan awalnya program Next Step Studio berada di bagian Director's Fortnight, dan sudah berlangsung selama 10 tahun.

“Ketika Filipina menjadi negara yang menjadi country of focus pada saat itu, saya pengin banget ayo dong ke Indonesia. Ada banyak talenta di Indonesia, ada banyak cerita, dan Asia Tenggara adalah tempat di mana filmmaker itu selalu berkolaborasi,” katanya di IFI Thamrin, Jakarta Pusat pada Selasa, 5 Mei 2026.

Adapun para sutradara yang mengerjakan program ini yakni Reza Fahriyansyah (Indonesia) dan Ananth Subramaniam (Malaysia) untuk film Holy Crowd, Shelby Kho (Indonesia) dan Sein Lyan Tun (Myanmar) untuk film Original Wound, Reza Rahadian (Indonesia) dan Sam Manacsa (Filipina) untuk film Annisa, dan Mothers Are Mothering disutradarai oleh Khozy Rizal (Indonesia) dan Lam Li Shuen (Singapura). 

Yulia menuturkan keempat sutradara dari Indonesia dan empat sutradara dari Asia Tenggara itu terpilih atas pertimbangan rekam jejak artistik untuk film-film yang dikerjakan sebelumnya. “Baik film pendek maupun film panjang, karena program ini hanya tersedia untuk para sutradara yang baru menyutradarai proyek film panjang pertama atau maksimal film kedua,” ujarnya. Namun yang paling penting, kata dia, para sutradara harus bersedia berkolaborasi dan menurunkan ego perihal menyampaikan ide-idenya.

Para sutradara, menurutnya, harus bekerjasama sejak awal menginisiasi ide film, hingga syuting yang semuanya akan dilakukan di Jakarta. “Jadi kolaborasi ini yang dari sejak awal mengerjakan cerita, memilih pemain, syuting, itu dilakukan secara bersama-sama,” ungkapnya. Sebab itu poin terpenting dalam program ini adalah kecakapan dalam berkolaborasi.

Produser Amerta Kusuma juga menuturkan proses program Next Step Studio Indonesia sudah direncanakan dari tahun lalu. Mengingat domisili tiap sutradara berbeda, sehingga beberapa di antaranya baru saling kenal dan pertama kali berkolaborasi.

“Mereka mengobrol dan biasanya mulai dari ini kesukaan nonton film apa, film seperti apa yang dia suka, lalu kira-kira punya ide seperti apa, dan akhirnya mereka berproses untuk bikin satu naskah,” tuturnya.

Ia mengatakan proses penyatuan para sutradara tak begitu sulit mengingat budaya Asia Tenggara cenderung sama sehingga mudah menyatukan ide cerita film. “Lalu produksinya sendiri sebetulnya berangkat dari naskah yang sudah ada itu baru kami mulai breakdown,” katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |