REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dunia pendidikan tinggi semakin memberi ruang bagi atlet berprestasi untuk berkembang tanpa meninggalkan pendidikan. Universitas Budi Luhur menjadi salah satu kampus yang konsisten mendukung pembinaan atlet melalui program beasiswa khusus.
Rektor Agus Setyo Budi menjelaskan, kampusnya membuka kesempatan luas bagi atlet dari berbagai cabang olahraga untuk menempuh pendidikan tinggi sekaligus tetap berkarier di dunia olahraga.
Menurut Agus, cabang olahraga yang difasilitasi cukup beragam, mulai dari bulu tangkis, pencak silat, voli, futsal, taekwondo, sepak bola, hingga cabang olahraga modern seperti esport. Selain itu, ada juga karate, panahan, serta panjat tebing.
“Kami menyiapkan sarana latihan baik di kampus maupun bekerja sama dengan fasilitas pelatnas,” ujar Agus, di Budi Luhur University, Jakarta, Kamis (6/3/2026).
Salah satu fasilitas yang dimiliki kampus adalah tempat latihan panahan di Bogor yang bahkan dimanfaatkan oleh pemerintah kota setempat untuk latihan atlet. Sementara untuk cabang futsal dan basket, nama Budi Luhur sudah cukup identik karena tradisi prestasi yang kuat.
Program beasiswa atlet di kampus tersebut juga cukup besar. Agus menyebut sekitar 20 persen dari total mahasiswa setiap tahun merupakan penerima beasiswa baik dari jalur akademik maupun non akademik termasuk jalur atlet.
Seleksi atlet dilakukan melalui proses scouting, rekomendasi dari senior, tes fisik, hingga wawancara. Para atlet kemudian dikontrak dalam sistem pembinaan khusus dengan pembagian kategori beasiswa, seperti grade A dan grade B.
Salah satu penerima beasiswa tersebut adalah atlet panahan nasional Ahmad Khoirul Basith. Ia mengaku mendapat kesempatan kuliah setelah meraih medali perunggu di Asian Games 2022 Hangzhou.
“Setelah mendapatkan medali perunggu di Asian Games Hangzhou 2023, saya ditawari untuk masuk Universitas Budi Luhur. Waktu itu untuk panahan belum ada programnya, tapi saya mengajukan dan Alhamdulillah akhirnya bisa,” ujar Basith.
Basith memilih mengambil program studi manajemen karena ingin melanjutkan usaha keluarga yang bergerak di bidang distribusi bahan pangan ke restoran.
Ia juga mengaku proses mendapatkan beasiswa relatif cepat. “Prosesnya kurang dari sebulan sudah selesai,” katanya.
Meski harus menjalani latihan intensif di pelatnas, Basith tetap berusaha menjaga prestasi akademiknya. Kampus memberikan fleksibilitas berupa perkuliahan daring bagi atlet yang sedang menjalani pemusatan latihan.
“Awalnya agak sulit membagi waktu karena latihan dari pagi sampai malam. Tapi kampus menyediakan kuliah online dan materi di web kampus, jadi bisa belajar saat ada waktu luang,” ujarnya.
Basith menambahkan, jika atlet sedang bertanding dan tidak bisa mengikuti ujian, kampus memberikan kesempatan untuk mengikuti ujian susulan. Saat ini ia memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) sekitar 3,2.
Di sisi olahraga, Basith kini tengah menjalani pemusatan latihan nasional di kawasan Gelora Bung Karno sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games 2026 Nagoya Jepang.
Ia akan bersaing dengan tiga pemanah lainnya di nomor recurve putra untuk memperebutkan tiga tiket tampil di ajang tersebut. “Kami ada empat atlet dan hanya tiga yang berangkat, jadi akan ada seleksi promosi dan degradasi,” kata Basith.
Untuk meningkatkan performa, program latihan saat ini difokuskan pada penguatan fisik dan teknik. Selain itu, tim panahan Indonesia juga dijadwalkan mengikuti uji coba internasional, termasuk seri Archery World Cup di Shanghai pada Mei mendatang.
Basith optimistis nomor beregu recurve putra memiliki peluang besar meraih prestasi karena kekompakan tim yang kuat. “Kalau untuk Asia Tenggara kami masih bisa bersaing di level atas. Tapi di Asia tentu persaingannya lebih berat, terutama dengan Korea, China, dan India,” ujarnya.

2 hours ago
4
















































