Memaknai Hari Kartini Lewat Aksi Bank Sampah Welis Fatimah

2 hours ago 3

MOMENTUM Hari Kartini dimaknai berbeda oleh sekelompok perempuan di Lorong Kebumen 1, Palembang, Sumatera Selatan. Melalui Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera, mereka menunjukkan bahwa perjuangan perempuan masa kini tidak hanya di bidang pendidikan, tetapi juga dalam menjaga lingkungan dan mengurangi sampah rumah tangga.

Direktur Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera, Welis Fatimah, mengatakan perempuan memiliki peran strategis dalam pengelolaan sampah karena sebagian besar sampah dihasilkan dari sampah rumah tangga. "Sekarang perempuan harus peduli lingkungan sebab, sampah paling banyak dihasilkan dari rumah tangga,” kata Welis saat ditemui di lokasi bank sampah tersebut.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurutnya, setiap manusia rata-rata menghasilkan minimal satu kilogram sampah setiap hari. Karena itu, kebiasaan memilah sampah dari rumah menjadi langkah awal yang penting untuk mengurangi timbunan sampah di lingkungan.

Berdiri Sejak 2015, Libatkan Anak-anak

Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera didirikan pada 2015 sebagai bentuk dukungan terhadap program pemerintah yang menargetkan Palembang bebas sampah pada 2020. Welis mengatakan, pendirian bank sampah tersebut berawal dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekitar yang masih dipenuhi sampah rumah tangga.

“Motivasi awal kami mendirikan bank sampah ini untuk membantu program pemerintah sekaligus menjadikan lingkungan lebih bersih,” katanya.

Kini, bank sampah tersebut telah memasuki tahun ke-11 operasional. Dalam perjalanannya, lembaga ini berkembang dari kegiatan kecil di lingkungan warga menjadi pusat edukasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Saat ini, tercatat sekitar 123 nasabah aktif yang rutin menabung sampah, dengan jumlah anggota pengelola sekitar 15 hingga 20 orang. Menariknya, sekitar 90 persen nasabah berasal dari kalangan anak-anak.

Menurut Welis, anak-anak sengaja dilibatkan karena dinilai lebih mudah menerima kebiasaan baru dan dapat menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga. “Anak-anak adalah agen perubahan yang nanti akan meneruskan kebiasaan baik ini,” kata dia.

Strategi Tabungan Sampah dan Tukar Sembako

Perjalanan merintis bank sampah tidak berjalan mulus. Welis mengakui, pada awal pendirian banyak warga yang belum memahami manfaat memilah sampah. Ia bahkan harus berkeliling dari rumah ke rumah dan warung untuk mengajak warga mulai memisahkan sampah.

“Kalau dibandingkan, mungkin 60 persen kontra dan 40 persen pro," katanya sambil menambahkan, "Mengajak masyarakat untuk memilah sampah itu sangat sulit.”

Meski demikian, upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Warga yang sebelumnya membuang sampah sembarangan kini mulai mengumpulkan sampah plastik, botol, dan kertas untuk disetorkan ke bank sampah. Kesadaran masyarakat disebutkannya meningkat seiring pemahaman bahwa sampah memiliki nilai ekonomi.

Di Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera, kata Welis, sampah dikelola dengan sistem tabungan. Warga membawa sampah dari rumah, kemudian sampah tersebut ditimbang dan dicatat dalam buku tabungan.

"Harga sampah rata-rata Rp 1.000 per kilogram, sementara kaleng minuman ringan dihargai Rp 100 per buah. Tabungan sampah dapat dicairkan dua kali dalam setahun dalam bentuk uang," katanya menjelaskan. 

Jenis sampah yang diterima meliputi botol plastik, gelas plastik, botol sampo, botol parfum, serta kaleng susu dan minuman. Namun plastik kemasan saset dan kantong plastik tipis tidak diterima.

Selain itu, bank sampah juga menjalankan program khusus seperti tukar sampah dengan sembako pada hari-hari tertentu. Dalam program tersebut, masyarakat dapat menukarkan tiga kilogram sampah dengan bahan kebutuhan pokok seperti beras, gula, atau terigu. "Program itu efektif meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menabung sampah."

Kerajinan Daur Ulang dan Bahan Bakar Alternatif

Tidak hanya mengumpulkan sampah, Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera juga mengembangkan kerajinan berbahan dasar limbah. Berbagai produk yang dihasilkan antara lain bros dari bungkus plastik, tas dari kain perca, miniatur bangunan dari koran bekas, hingga kursi dari ecobrick.

Harga produk kerajinan bervariasi, mulai dari Rp 10.000 hingga Rp 1,5 juta. Produk termahal yang pernah terjual adalah miniatur Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) yang dibuat dari koran bekas. “Kami membuat dari yang tidak bernilai menjadi berharga,” kata dia.

Bank sampah tersebut juga mengelola tabungan minyak jelantah dari rumah tangga. Minyak bekas tersebut dikumpulkan dan disetorkan oleh warga. "Sebanyak lima liter minyak jelantah dapat ditukar dengan uang Rp 20.000 atau minyak baru satu liter."

Minyak jelantah tersebut kemudian diolah menjadi bahan bakar alternatif melalui kerja sama dengan organisasi lingkungan. Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi pencemaran lingkungan akibat pembuangan minyak bekas sembarangan. "Dan juga bisa menjadi energi alternatif juga," kata dia.

Selain pengelolaan sampah, kelompok perempuan di lokasi tersebut juga mengembangkan usaha produksi tepung mocaf atau Modified Cassava Flour melalui Kelompok Wanita Tani (KWT). "Program ini dimulai pada 2020 setelah kelompok mendapatkan bantuan alat pengolahan hasil pertanian."

Tepung mocaf digunakan sebagai alternatif tepung terigu dan dapat diolah menjadi berbagai makanan seperti kue, gorengan, hingga makanan gluten-free. Produk tepung mocaf tersebut telah memiliki izin PIRT dan sertifikasi halal, serta dipasarkan melalui media daring kepada konsumen dari dalam dan luar kota.

Status Kampung Iklim Nasional

Lingkungan tempat Bank Sampah Kebumen Gemilang Sejahtera berada telah memperoleh status Kampung Iklim tingkat nasional sejak 2017. Lokasi tersebut juga pernah menjadi titik penilaian program Adipura dan sering menjadi tujuan kunjungan berbagai instansi, mulai dari sekolah, dinas pemerintah, hingga organisasi masyarakat.

Welis mengatakan keberhasilan tersebut tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dari sejumlah lembaga dan perusahaan.

Dalam momentum Hari Kartini, Welis berharap semakin banyak perempuan yang terlibat dalam gerakan peduli lingkungan. Ia menilai peran perempuan sangat penting karena pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga. “Kami berharap semakin banyak bank sampah di Palembang sesuai program satu kelurahan satu bank sampah,” katanya.

Menurutnya, perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil, seperti memilah sampah dari rumah dan menabung sampah secara rutin. “Mulailah memilah sampah sesuai jenisnya dan menabung di bank sampah agar lingkungan kita semakin bersih dan asri,” ujar Welis.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |