Tekan Risiko Fiskal, Komisi XII DPR Dorong Transaksi Batu Bara DMO Pakai Rupiah

2 hours ago 3

Sejumlah kapal tongkang memuat batu bara melakukan lego jangkar di Sungai Mahakam, Samarinda, Kalimantan Timur, Selasa (18/2/2025).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Komisi XII DPR mendorong penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri. Langkah ini dinilai penting untuk menekan risiko fiskal akibat fluktuasi nilai tukar dan harga energi global.

Anggota Komisi XII DPR RI Rokhmat Ardiyan mengatakan, transaksi batu bara DMO seharusnya menggunakan mata uang domestik. Kebijakan ini dinilai dapat mengurangi potensi kerugian negara.

“Saya mendukung agar transaksi-transaksi menggunakan rupiah, terutama pembelian batu bara tersebut, sehingga tidak mengalami kerugian negara yang cukup besar,” kata Rokhmat, Rabu (22/4/2026).

Menurut dia, penggunaan rupiah akan menjaga stabilitas biaya pembangkitan listrik. Selama ini, beban keuangan sektor energi masih dipengaruhi pergerakan dolar AS.

Rokhmat menjelaskan, harga batu bara DMO saat ini berada di kisaran 70 dolar AS per ton. Dengan volume kebutuhan yang besar, pelemahan rupiah dapat meningkatkan beban anggaran secara signifikan.

“Karena transaksi dilakukan di dalam negeri, penggunaan rupiah dinilai lebih efisien dan logis dibandingkan menggunakan mata uang asing,” kata Rokhmat.

Ia menilai, kebijakan ini dapat memberikan kepastian biaya sekaligus mengurangi eksposur terhadap risiko nilai tukar. Stabilitas fiskal dinilai akan lebih terjaga jika transaksi energi domestik menggunakan rupiah.

Selain itu, Rokhmat juga menyoroti kebijakan pengurangan pembangkit listrik berbahan bakar diesel. Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya efisiensi energi nasional.

Menurut dia, pembangkit diesel memiliki biaya produksi tinggi dan masih bergantung pada impor bahan bakar. Pengurangan penggunaannya dinilai penting untuk memperkuat kemandirian energi.

Rokhmat menegaskan, penggunaan rupiah dalam transaksi batu bara dan pengurangan pembangkit diesel merupakan strategi yang saling melengkapi. Kedua langkah ini dinilai mendukung ketahanan energi nasional.

“Kebijakan tersebut tidak hanya mengurangi risiko keuangan, tetapi juga mendukung transisi energi yang lebih efisien dan berkelanjutan,” kata Rokhmat.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |