Syed Farid Alatas Bicara Bagaimana Gagasan Sajogyo

3 days ago 4

DOSEN National University of Singapore, Syed Farid Alatas, menyebut bahwa semua gagasan yang dikembangkan Sajogyo tidak sepenuhnya menolak ilmu dari Barat. Sepanjang hidupnya, akademisi yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia itu terus mengembangkan banyak pemikiran.

Syed Farid Alatas menyebut gagasan yang dikembangkan Sajogyo, meliputi petani, pemilik lahan kecil, buruh tani, hubungan agraria, migran pedesaan ke kota dan luar negeri, perempuan, kemiskinan, tata kelola desa, hukum adat, industrialisasi pedesaan, gizi masyarakat. "Semua gagasan ini tidak berarti menolak ilmu dari Barat sepenuhnya, tetapi mengkritik ketergantungan intelektual yang membuat ilmuwan negara-negara Selatan hanya menjadi pengguna konsep dari luar negeri," kata dia saat sambutan dalam seminar memperingati seabad Saogyo bertemakan "International Conference on Autonomous Social Sciences and Alternative Development in Times of Multiple Crises", di IPB University Dramaga, Kamis, 21 Mei 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dia menekankan pentingnya autonomous social sciences atau ilmu sosial yang mandiri. Dalam kerangka ini, ia menghubungkan warisan Syed Hussein Alatas tentang captive mind dengan warisan Sajogyo dalam membangun ilmu sosial yang berpijak pada realitas masyarakat sendiri. "Otonomi ilmu tidak cukup hanya membebaskan diri dari eurosentrisme. Ilmu sosial juga harus membebaskan diri dari bias internal, seperti androsentrisme, sektarianisme, kulturalisme sempit, atau cara berpikir hegemonik lain yang hidup di dalam masyarakat sendiri," kata dia. 

Dia mengatakan, dalam ilmu sosial di negara-negara Selatan hendaknya berani menghasilkan konsep dari pengalaman sejarah, kebudayaan, dan perjuangan masyarakatnya sendiri, namun tetap berani berdialog secara kritis dengan pengetahuan global yang masih didominasi Barat.

Sementara itu, Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan IPB University, Ivanovich Agusta, mengatakan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan sosial secara mandiri telah lama dijalankan Sajogyo. Menurut Ivanovich, Sajogyo bukan hanya tokoh akademik, melainkan perintis ilmu sosial yang berpihak pada realitas rakyat desa, petani, kemiskinan, agraria, dan keadilan sosial.

Karena itu, Ivanovich mengatakan pentingnya acara mengenang seabad Sajogyo. "Momentum 21 Mei 2026 juga penting karena bertepatan dengan peringatan 100 tahun kelahiran Sajogyo, yang sampai saat ini (gagasannya) masih bisa diterapkan dalam kehidupan di masyarakat kita," kata dia.

Dia mengatakan, dalam konteks krisis ekologis, ketimpangan sosial, dan krisis pembangunan, Sajogyo menegaskan pentingnya ilmu sosial otonom yang berakar pada pengalaman lokal, terutama pengalaman masyarakat desa dan kelompok marginal. Ilmuwan sosial harus melampaui “solusi teknis” semata dan mendorong refleksi kritis tentang relasi pengetahuan, kuasa, dan keadilan. 

Teori-teori ilmu sosial yang berasal dari luar komunitas selalu diperlakukan, pada mulanya, sebagai hipotesis—untuk diuji, disesuaikan, atau bahkan ditolak. Upaya dekolonisasi pengetahuan ini kemudian diikuti dengan pengembangan teori dari praktik lapangan. "Pemikiran ini sejauh mana lapisan sosial paling bawah mampu berpartisipasi, dan sejauh mana mereka dapat secara mandiri mewujudkan kapasitasnya sendiri," ucapnya. Di sinilah, kata dia, Mazhab Bogor –kumpulan pemikir yang menerapkan sudut pandang Sajogyo—menemukan keterkaitannya yang erat dengan gagasan pembangunan alternatif.

Ivanovich menambahkan, otonomi komunitas, terutama di kalangan kelompok sosial paling bawah, menjadi semakin penting ketika kita menyadari bahwa modernisasi itu sendiri telah melahirkan berbagai krisis. Desa kerap diperlakukan sebagai penyangga sosial-ekonomi pada masa krisis, namun justru petani kecil, buruh, dan masyarakat adatlah yang paling kurang terlindungi dan paling rentan. "Karena itu, kemampuan lapisan sosial paling bawah untuk mengorganisasi diri, membebaskan diri, dan bangkit dari bawah—sebagai wujud pemberdayaan rakyat—menjadi lensa penting untuk menilai pembangunan," kata dia.

Seminar yang digelar di IPB University Bogor ini menjadi puncak acara rangkaian perayaan 100 tahun kelahiran Sajogyo. Ivanovich mengungkapkan sejumlah diskusi-diskusi membahas pemikiran Bapak Sosiologi Pedesaan Indonesia itu telah digelar di beberapa universitas sejak Maret lalu. Ia menyebut, diskusi mengenai gagasan Sajogyo tentang transmigrasi digelar di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sementara, diskusi lain tentang kehidupan masyarakat pedesaan diadakan di Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. "Bahkan diskusi ini akan berlanjut bulan depan, dengan fokus pada studi agraria dan gender di Perguruan Tinggi Pertanahan Nasional di Yogyakarta," ucapnya.

Pilihan Editor: Bagaimana Sajogyo Merintis Ilmu Sosiologi Perdesaan

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |