Menangkal Kepunahan Ginseng of Java Lewat Pemuliaan Tanaman

2 hours ago 2

BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan inovasi pemuliaan tanaman herbal purwaceng untuk menghasilkan varietas yang lebih unggul dan mampu beradaptasi dibandingkan dengan populasi alaminya. Spesies endemik Indonesia yang tumbuh di kawasan dataran tinggi itu kini berstatus terancam punah. 

Peneliti Ahli Utama di Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Otih Rostiana, mengatakan tanaman yang dijuluki "Ginseng of Java" ini mengandung senyawa bioaktif yang berkontribusi pada peningkatan vitalitas, kesehatan saluran kemih, dan sirkulasi darah. Banyak yang memanfaatkan tanaman ini sebagai bahan baku obat tradisional sehingga berdampak langsung pada berkurangnya populasi.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Merespons ancaman kepunahan ini, Otih menyebut timnya melakukan pemuliaan tanaman dengan menyeleksi sumber daya genetik, pemurnian galur, hingga menghasilkan varietas unggul. “Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” kata Otih dalam keterangan tertulisnya, Kamis, 16 Juli 2026. 

Otih mengatakan varietas baru ini memiliki karakteristik tulang daun berwarna merah keunguan, performa genetik yang lebih baik, peningkatan kandungan sitosterol, serta kemampuan beradaptasi pada lokasi budi daya yang lebih rendah dibandingkan habitat alaminya. Meski demikian, keberhasilan pemuliaan belum sepenuhnya menjawab persoalan utama pengembangan purwaceng. Tantangan berikutnya adalah penyediaan benih dalam jumlah yang memadai.

Dalam perspektif industri, Otih menekankan keberhasilan pengembangan purwaceng tidak cukup hanya menghasilkan varietas unggul. Standardisasi mutu bahan baku menjadi aspek yang sama pentingnya agar produk herbal yang dihasilkan memiliki kualitas yang konsisten. Menurutnya, mutu purwaceng dipengaruhi oleh kepastian identitas tanaman, teknik budi daya, waktu panen, hingga penanganan pascapanen.

Otih juga mengingatkan risiko pemalsuan bahan baku akibat tingginya permintaan pasar. Beberapa tanaman lain, seperti Valeriana officinalis, kolesom, maupun som jawa memiliki bentuk akar yang menyerupai purwaceng. Namun, kandungan senyawa aktif dan manfaat farmakologinya berbeda. Ia menilai perlu standardisasi untuk menjamin keamanan, mutu, dan khasiat produk herbal secara berkelanjutan. 

“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standardisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” kata Otih. 

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |