REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi terbaru menemukan bahwa pasien yang mengalami serangan jantung memiliki kadar mikroplastik dan nanoplastik dalam darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan individu sehat. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal European Heart Journal.
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran sangat kecil yang kini tersebar luas di berbagai aspek kehidupan, mulai dari makanan, produk rumah tangga hingga teh celup. Dalam sejumlah penelitian sebelumnya, partikel tersebut telah terdeteksi di berbagai organ dan jaringan tubuh manusia.
Hingga kini masih sedikit diketahui apakah mikroplastik dan nanoplastik dapat ditemukan dalam sirkulasi koroner, yaitu darah yang mengalir melalui arteri yang memasok darah ke jantung. Adapun penelitian terbaru ini menunjukkan adanya hubungan kuat antara paparan lingkungan, keberadaan partikel plastik dalam darah, dan penyakit kardiovaskular.
Penelitian yang dipimpin oleh dr Pasquale Paolisso dari Universitas Sapienza di Roma melibatkan 61 pasien. Tim peneliti mengambil sampel darah dari pembuluh yang memasok darah ke jantung para peserta.
Para peserta dibagi dalam beberapa kelompok yaitu pasien yang pernah mengalami serangan jantung, pasien dengan penyakit jantung kronis tetapi belum pernah mengalami serangan jantung, serta pasien dengan kondisi arteri yang sehat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mikroplastik dan nanoplastik yang terbawa dalam darah ditemukan pada 84 persen pasien yang pernah mengalami serangan jantung. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 40 persen pasien yang memiliki penyakit jantung kronis tanpa riwayat serangan jantung, serta 32 persen pasien yang memiliki sirkulasi jantung sehat.
Peneliti juga menemukan bahwa beberapa faktor lingkungan berkaitan dengan tingginya kadar mikroplastik dalam darah. Orang yang merokok memiliki kemungkinan enam kali lebih besar mengalami kadar mikroplastik darah yang tinggi. Risiko serupa juga terlihat pada orang yang secara rutin terpapar polusi udara dalam tingkat tinggi.
Dalam penelitian tersebut, seluruh pasien yang memiliki riwayat merokok sekaligus sering menghirup udara tercemar menunjukkan kadar mikroplastik darah yang tinggi. Sebaliknya, hanya 12,5 persen pasien yang tidak memiliki kedua faktor risiko tersebut yang menunjukkan kadar mikroplastik tinggi.
Penulis senior studi dari Universitas Sapienza, dr Emanuele Barbato, mengatakan hasil penelitian ini belum membuktikan hubungan sebab-akibat. Namun peneliti menemukan keterkaitan antara paparan mikroplastik dengan penyakit jantung.
"Temuan ini tidak membuktikan bahwa mikroplastik menyebabkan serangan jantung, tetapi mengungkap adanya hubungan kuat antara paparan lingkungan, mikroplastik dalam darah, dan penyakit kardiovaskular," kata Barbato seperti dilansir laman USnews, Rabu (15/7/2026).

1 hour ago
3















































