Rupiah Lanjutkan Tren Pelemahan, Ini Penyebabnya

2 hours ago 3

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melanjutkan tren pelemahan terimbas memanasnya konflik di Timur Tengah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih bergerak pada tren pelemahan, imbas konflik di Timur Tengah yang sepekan terakhir meletus. Kurs rupiah makin mendekati level Rp17.000 per dolar AS.

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 20,50 poin atau 0,12 persen menuju 16.925 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat (6/3/2026). Pada perdagangan sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp 16.903 per dolar AS. 

“Konflik di Timur Tengah memasuki hari ketujuh pada hari Jumat tanpa tanda-tanda mereda yang jelas, membuat pasar keuangan global tetap waspada,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026). 

Pertempuran antara AS-Israel dan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global.

Presiden AS Donald Trump mengatakan, ia ingin berperan dalam menentukan pemimpin Iran berikutnya setelah perang berakhir. Pernyataan itu menggarisbawahi meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan politik kawasan tersebut.

“Harga minyak melanjutkan kenaikan kuatnya semalam karena konflik mengancam infrastruktur energi utama dan jalur pelayaran di Teluk. Lonjakan harga minyak mentah telah memicu kekhawatiran tentang gelombang inflasi global yang baru,” terangnya.

Ibrahim menuturkan, hal itu telah mempersulit prospek bagi bank sentral global, termasuk Federal Reserve AS. Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Di samping itu, lanjutnya, investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan data pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari, yang dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter. Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menunda pemotongan suku bunga.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |