PMI Bangun Tenda Belajar dan Dukung Rumah Sakit Lapangan Pascagempa di NTT

5 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG -- Palang Merah Indonesia (PMI) membangun tenda belajar sebagai ruang pembelajaran sementara untuk membantu memulihkan aktivitas pendidikan masyarakat terdampak gempa. Salah satunya dilakukan di SMP Negeri 8 Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, yang sejumlah bagian bangunannya mengalami keretakan pascagempa.

Selain mendukung sektor pendidikan, PMI juga memperkuat dukungan terhadap pelayanan kesehatan melalui penyediaan tenda dan fasilitas pendukung untuk menunjang operasional rumah sakit lapangan serta puskesmas yang terdampak gempa.

Dukungan tersebut menjadi bagian dari respons PMI terhadap dampak gempa yang tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga mengganggu aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar dan pelayanan kesehatan.

Sebelumnya Sekitar 140 siswa SMP Negeri 8 Komodo yang terbagi dalam enam rombongan belajar kembali mengikuti pembelajaran tatap muka.

Namun, untuk sementara waktu kegiatan belajar tidak dilakukan di ruang kelas. Para siswa mengikuti pembelajaran di ruang terbuka dengan memanfaatkan tenda belajar yang dibangun PMI.

Kepala SMP Negeri 8 Komodo, Aloysia Moto, mengatakan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi bangunan sekolah sekaligus kondisi psikologis siswa setelah gempa.

“Selama masa tanggap darurat, kita lebih mementingkan psikologis anak, terutama rasa ketakutan,” ujar Aloysia.

Menurutnya, gempa yang terjadi berulang kali membuat sebagian siswa masih merasa khawatir untuk kembali beraktivitas di dalam gedung sekolah. Kondisi bangunan yang mengalami keretakan juga menjadi pertimbangan sekolah.

“Apalagi kita punya lantai dua. Ketika ada getaran, anak mungkin panik dan langsung lari. Ini yang sangat mengkhawatirkan,” ungkapnya.

Karena itu, pembelajaran di ruang terbuka menjadi salah satu pilihan sementara. Selain mempertimbangkan keamanan, kegiatan belajar di tenda diharapkan dapat membantu siswa secara perlahan membangun kembali rasa aman setelah mengalami bencana.

Aloysia menerangkan, sebelum kembali melakukan pembelajaran tatap muka, sekolah sempat menjalankan pembelajaran secara daring. Namun, metode tersebut menghadapi berbagai kendala sehingga tidak berjalan optimal.

“Pasca gempa, belajar tidak efektif. Siswa sudah belajar secara daring, tetapi tidak efektif karena banyak gangguan. Ada orang tua yang tidak memiliki HP, kemudian tidak ada kuota dan berbagai kendala lainnya,” kata Aloysia.

Keterbatasan perangkat komunikasi dan akses internet membuat sebagian siswa kesulitan mengikuti pembelajaran jarak jauh. Karena itu, sekolah membutuhkan alternatif agar proses pendidikan dapat kembali berlangsung secara langsung.

Dengan jumlah sekitar 140 siswa dalam enam rombel, keberadaan tenda belajar menjadi penting untuk menjaga agar kegiatan pendidikan tetap berjalan selama bangunan sekolah belum dapat digunakan secara optimal.

“Kita ingin anak-anak memahami bahwa kegiatan belajar tetap bisa berjalan meskipun untuk sementara kita tidak berada di dalam kelas,” ujar Aloysia.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada PMI yang telah merespons kebutuhan sekolah dalam situasi pascagempa.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada PMI yang sudah menjawab kebutuhan kami saat ini, khususnya untuk warga belajar. Anak-anak membutuhkan ruang untuk kembali belajar dan beraktivitas setelah gempa. Dengan adanya tenda ini, mereka bisa kembali belajar bersama guru dan teman-temannya,” katanya.

Sementara itu, Kepala Biro Sarana dan Prasarana Markas PMI Pusat, Ilham Huznul, mengatakan dukungan PMI dalam penanganan dampak gempa disesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat di lapangan, sejalan dengan arahan Ketua Umum PMI Jusuf Kalla agar penanganan bencana dilakukan secara cepat, tepat, dan langsung menyentuh kebutuhan utama warga.

Dalam penanganan dampak gempa, PMI tidak hanya menyasar sektor pendidikan, tetapi juga memastikan pelayanan kesehatan tetap dapat berjalan.

“Dukungan PMI kami sesuaikan dengan kebutuhan dan permintaan masyarakat saat ini. Salah satunya penyediaan tenda belajar untuk mendukung aktivitas pendidikan. Di sektor kesehatan, kami juga menyiapkan fasilitas sementara sesuai kebutuhan pelayanan di lapangan,” ujar Ilham.

Untuk mendukung pelayanan kesehatan, PMI telah membangun 13 unit tenda berukuran 6 x 12 meter untuk menunjang operasional rumah sakit lapangan di Ruteng.

Rumah sakit lapangan Kementerian Kesehatan tersebut didirikan setelah fasilitas rumah sakit sebelumnya tidak dapat beroperasi akibat mengalami kerusakan pascagempa.

Selain tenda, PMI juga menyediakan 10 unit toilet portable untuk mendukung kebutuhan sanitasi dan kenyamanan tenaga kesehatan maupun masyarakat yang mendapatkan pelayanan di rumah sakit lapangan.

“PMI juga membangun 13 tenda besar berukuran 6 x 12 meter untuk mendukung rumah sakit lapangan di Ruteng, serta melengkapinya dengan 10 unit toilet portable,” ujar Ilham.

Tidak hanya rumah sakit lapangan, PMI juga memberikan dukungan terhadap pelayanan di tingkat puskesmas dengan membangun 3 unit tenda untuk mendukung fasilitas Kesehatan.

Dukungan tersebut diberikan agar pelayanan kesehatan masyarakat tetap dapat berlangsung meskipun fasilitas kesehatan mengalami dampak akibat gempa.

“Dukungan ini kami lakukan agar pelayanan kesehatan kepada masyarakat tetap dapat berjalan meskipun fasilitas kesehatan terdampak gempa dan belum dapat digunakan secara normal. Sesuai arahan Ketua Umum PMI Bapak Jusuf Kalla, operasi bantuan PMI harus mengedepankan prinsip cepat dan tepat sasaran,” kata Ilham.

Menurut Ilham, penyediaan tenda dan fasilitas pendukung menjadi solusi sementara ketika fasilitas permanen belum dapat digunakan.

“Tenda dan fasilitas pendukung yang kami bangun diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan lebih layak dan nyaman,” ujarnya.

Ilham menegaskan, respons PMI dalam situasi bencana tidak hanya berfokus pada penanganan kebutuhan darurat, tetapi juga memastikan aktivitas penting masyarakat tetap dapat berlangsung.

“Prinsipnya, sesuai dengan penekanan Bapak Jusuf Kalla, ketika terjadi bencana, aktivitas masyarakat tidak boleh berhenti seluruhnya. Anak-anak tetap harus mendapatkan pendidikan, masyarakat tetap membutuhkan pelayanan kesehatan, dan fasilitas pendukung harus kita hadirkan secara responsif sesuai kebutuhan nyata di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, tenda menjadi salah satu solusi cepat dalam kondisi ketika bangunan permanen belum dapat digunakan. Fasilitas tersebut memungkinkan kegiatan penting tetap berjalan sembari menunggu proses pemeriksaan, perbaikan, maupun pemulihan fasilitas terdampak bencana.

“Yang kami bangun memang bersifat sementara, tetapi manfaatnya harus bisa dirasakan langsung oleh masyarakat selama masa tanggap darurat dan proses pemulihan berlangsung. Sebagaimana pesan Pak JK, PMI harus selalu hadir memberikan pemulihan layanan dasar bagi warga secara bermartabat,” katanya.

Pembangunan tenda belajar di SMP Negeri 8 Komodo, dukungan 13 tenda untuk rumah sakit lapangan beserta 10 toilet portable, serta tiga tenda untuk puskesmas menunjukkan bahwa kebutuhan pascabencana tidak hanya menyangkut tempat berlindung, tetapi juga keberlanjutan layanan dasar masyarakat.

Di sekolah, tenda menjadi ruang bagi anak-anak untuk kembali membuka buku dan mengikuti pelajaran. Di fasilitas kesehatan, tenda menjadi ruang pelayanan agar tenaga kesehatan tetap dapat memberikan layanan kepada masyarakat terdampak.

Bagi PMI, pemulihan pascabencana merupakan proses yang harus dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat di berbagai sektor.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |