Warga mengambil air dari mata air atau belik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Banaran, Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (3/9/2026). Sumber air tersebut menjadi salah satu andalan warga ketika ketersediaan air bersih mulai terbatas akibat musim kemarau. Warga memanfaatkan sumber air alami untuk berbagai kebutuhan rumah tangga di tengah kondisi kemarau yang menyebabkan sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. (FOTO : ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Warga memanggul galon berisi air yang diambil dari mata air atau belik. Pemanfaatan mata air menjadi bagian dari keseharian masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air saat musim kemarau. Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air dan menyiapkan cadangan air. (FOTO : ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
Warga mengambil air dari mata air untuk kebutuhan sehari-hari di Banaran, Girimulyo, Kulon Progo. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan di seluruh wilayah DIY hingga 30 September 2026 melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 248 Tahun 2026. Penetapan tersebut menjadi langkah kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau, termasuk potensi krisis air bersih. (FOTO : ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)
REPUBLIKA.CO.ID, KULON PROGO -- Dampak musim kemarau mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Di Banaran, Girimulyo, warga masih mengandalkan mata air atau belik untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi Kekeringan di seluruh wilayah DIY hingga 30 September 2026. Kebijakan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Gubernur DIY Nomor 248 Tahun 2026 sebagai langkah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kekeringan.
sumber : Antara Foto

3 hours ago
3















































