Nuzulul Quran dan Ketahanan Ekonomi Global

3 hours ago 1

ILUSTRASI Penutupan Selat Hormuz oleh Iran berdampak pada ekonomi global.

Oleh: Faozan Amar*)

Peringatan 17 Ramadhan sebagai momentum Nuzulul Quran sejatinya melampaui ritus seremonial semata. Ia adalah panggilan eksistensial untuk menggali kembali "peta jalan" strategis di tengah belantara dunia yang kian tak menentu.

Saat ini, bara ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran telah memicu volatilitas harga energi serta disrupsi rantai pasok global. Dalam konteks ini, Alquran menawarkan kerangka manajemen strategi yang sangat relevan untuk mempertebal benteng ketahanan ekonomi nasional.

Realitas pahit baru-baru ini diungkapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Stok bahan bakar minyak (BBM) nasional kita hanya bertahan pada kisaran 21-25 hari. Keterbatasan ini berkelindan dengan minimnya fasilitas penyimpanan (storage) di dalam negeri (Republika, 5/3/2026).

Kondisi ini kian mencemaskan. Mengingat, dua kapal tanker Pertamina sempat tertahan di Selat Hormuz.

Pertanyaannya, sejauh mana daya tahan kita jika eskalasi konflik berlangsung dalam jangka panjang? Bayangkan, kalau saat mudik nanti BBM mengalami kelangkaan.

Ketegangan geopolitik kontemporer telah menciptakan efek domino yang nyata hingga ke meja makan masyarakat. Laporan Global Economic Prospects dari Bank Dunia (2024) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,4 persen. Sementara itu, IMF menegaskan bahwa eskalasi di Timur Tengah berpotensi memicu inflasi global melalui guncangan harga energi.

Kawasan tersebut menyumbang sekitar 30 persen produksi minyak dunia (OPEC, 2023). Maka, ketidakstabilan di sana adalah ancaman eksistensial bagi stabilitas ekonomi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang berpenduduk terbesar keempat di dunia.

Dalam kacamata manajemen strategi, menurut David (2017), organisasi maupun negara dituntut untuk memiliki ketajaman pemindaian lingkungan (environmental scanning) dan fleksibilitas strategis untuk bertahan di tengah ketidakpastian (uncertainty). Di sinilah prinsip Alquran hadir tidak sekadar sebagai dogma, melainkan juga metodologi pertahanan ekonomi yang berbasis etika dan keberlanjutan.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |