HALO, pembaca nawala Cek Fakta Tempo!
GELOMBANG unjuk rasa membanjiri seratusan daerah akhir Agustus 2025. Dipicu penolakan kenaikan tunjangan anggota DPR, protes menjalar masif menyusul tewasnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek daring. Ini demonstrasi terbesar pasca-Reformasi 1998. Riset Institute for Development of Economics and Finance (Indef) bersama Monash University Indonesia merekam, ledakan massa berakar dari frustrasi politik dan ketimpangan ekonomi yang mengendap sejak Pemilu 2024.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Begitu aksi membesar, narasi tandingan mendadak mengepung ruang siber. Di platform X dan media online, bertebaran seratus lebih unggahan yang menuding demonstrasi tersebut tidak organik. Aktor asing bergerak. Media pemerintah Rusia, Sputnik, bersama para pemengaruh (influencer) pro-Moskow dan Beijing kompak meniupkan rumor: aksi itu modal anarki pasokan Amerika Serikat. Lembaga swadaya masyarakat dan media independen lokal ikut dicap “antek asing”.
Propaganda luar negeri ini langsung disambar akun-akun domestik pendukung pemerintahan Prabowo Subianto. Pola ini menyingkap fakta benderang: kepentingan aktor asing dan elite domestik berkelindan. Keduanya saling memanfaatkan demi memperkuat narasi usang yang konsisten menyetempel setiap kritik sebagai pesanan asing.
Target operasi siber di Indonesia tak berhenti pada isu domestik. Dalam setahun terakhir, ruang digital kita dijejali narasi terkoordinasi jaringan pro-Cina dan pro-Pakistan mengenai kecanggihan teknologi militer Beijing. Pada 2 Mei lalu, sebuah akun pro-Cina mengklaim Indonesia meneken kontrak pembelian jet tempur J-10 buatan industri pertahanan Beijing. Meski unggahan itu dibagikan lebih dari dua ribu kali, Kementerian Pertahanan segera menepisnya.
Eskalasi narasi ini rupanya limpahan konflik India-Pakistan. Jaringan pro-Cina dan pro-Pakistan berupaya keras meyakinkan publik global bahwa J-10 berhasil menekuk jet Rafale milik India dalam pertempuran udara. Indonesia kemudian dibidik menjadi sasaran antara. Melalui tagar #HentikanRafaleDeal, kampanye sistematis ini dirancang untuk mengintervensi opini publik sekaligus menggoyang kebijakan pemerintahan Prabowo yang tengah mengupayakan pengadaan jet Rafale asal Prancis.
Dua manuver di atas merupakan contoh nyata dari Foreign Information Manipulation and Interference (FIMI) atau Manipulasi dan Interferensi Informasi Asing. Uni Eropa mendefinisikan FIMI sebagai perilaku manipulatif penuh tipu daya yang dilakukan aktor asing secara terkoordinasi untuk mengacak-ngacak ekosistem informasi negara lain. Tujuannya: merongrong nilai demokrasi serta mendelegitimasi proses politik setempat.
Indonesia bukan target tunggal. Laporan European External Action Service (EEAS) mencatat kampanye FIMI menyasar 90 negara sepanjang 2024. Walau Ukraina menjadi sasaran utama, operasi senyap ini juga menggempur Prancis, Jerman, Moldova, hingga kawasan Afrika Sub-Sahara. FIMI telah menjelma menjadi ancaman global yang nyata.
Bagaimana persisnya FIMI merembes ke Indonesia? Dan seperti apa cetak biru jaringan aktor asing ini memanipulasi kesadaran publik kita? Simak penelusurannya dalam dua laporan investigasi digital Tempo berikut ini:
Ada Apa Pekan Ini?
Dalam sepekan terakhir, klaim yang beredar di media sosial memiliki beragam isu, mulai dari isu internasional, politik,hukum, hingga kesehatan. Buka tautannya ke kanal Cek Fakta Tempo untuk membaca hasil periksa fakta berikut:
- Benarkah Virus Hanta Bagian dari Agenda Great Reset 2030?
- Benarkah Prabowo Segel Selat Malaka dan Memicu Kemarahan Anwar Ibrahim?
- Benarkah Cypri Dale Akui Film Pesta Babi Didanai Asing?
- BenarkahVideo Perang Indonesia Melawan Israel?
Kenal seseorang yang tertarik dengan isu disinformasi? Teruskan nawala ini ke surel mereka. Punya kritik, saran, atau sekadar ingin bertukar gagasan? Layangkan ke sini. Ingin mengecek fakta dari informasi atau klaim yang anda terima? Hubungi Tipline kami.
Ikuti kami di media sosial:

















































