Kenangan yang Mengalir dari Kuali: Menjaga Dodol, Merawat Jakarta

8 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ada aroma yang berbeda di kawasan Setu Babakan, Jumat siang itu. Bukan sekadar aroma masakan biasa, melainkan wangi legit yang merambat pelan dari rumah-rumah warga, bercampur dengan kepulan asap kayu bakar yang mengepul dari dapur-dapur tradisional.

Di salah satu rumah di Jalan Moch Kahfi II, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, asap mengepul lebih tebal. Di sanalah Dodol Nyak Mai, salah satu warisan kuliner Betawi yang masih bertahan di tengah gempuran zaman, tengah menjalani ritual tahunannya: membuat dodol untuk menyambut Ramadhan dan Idulfitri.

Juani (65) berdiri di depan kuali besar, mengamati para pekerjanya yang tengah sibuk mengaduk adonan berwarna cokelat pekat. "Saya mah penerus ibu saya, sudah generasi kedua," katanya. Matanya menyipit, setengah tersenyum mengenang ibunya, Nyak Mai, yang merintis usaha ini pada awal 1990-an. Padahal, akar usaha ini jauh lebih dalam: sejak sekitar tahun 1950-an, saat ibunya masih muda dan dodol buatannya mulai dikenal tetangga.

Kini Juani, bersama generasi kedua lainnya, Mpok Djuanih dan Bang Udin, menjaga api tradisi itu tetap menyala. Sepuluh pekerja silih berganti mengaduk adonan di atas kuali-kuali besar yang dipanaskan dengan kayu bakar. Bahan-bahannya sederhana: gula merah, gula pasir, santan, dan tepung beras ketan. Tanpa pengawet, tanpa bahan kimia. Hanya kesabaran dan otot yang kuat, karena adonan ini harus diaduk tanpa henti selama delapan hingga sepuluh jam.

"Rupanya tidak ringan," sebuah suara terdengar dari ambang pintu. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo baru saja tiba, dan langsung terkesima melihat proses pengadukan yang dilakukan para pekerja dengan keringat bercucuran. Ia mencoba sendiri mengaduk dodol di atas kuali. Beberapa menit kemudian, lengannya sudah terasa pegal. Ia tertawa kecil, membayangkan para pekerja yang melakukannya bergantian berjam-jam.

"Karenanya, perlu tiga sampai empat orang untuk melakukan pengadukan secara bergantian," ujar Pramono, yang kemudian duduk berbincang dengan Juani dan para pekerja. Di balik proses melelahkan itu, sang Gubernur menangkap sebuah nilai luhur: gotong royong. "Inilah kekhasannya, keunggulannya, kelebihannya dodol. Yang kita sebut dengan gotong royong ini," katanya.

Pramono punya rencana. Ia ingin dodol khas Betawi ini hadir di setiap acara di Balai Kota. Bukan sekadar camilan, melainkan simbol bahwa Jakarta masih peduli pada warisan budayanya. "Saya minta untuk acara-acara di Balai Kota, kita pesan di tempat ini," katanya tegas.

Ia bahkan mengaku kerap membawa dodol Nyak Mai untuk keluarganya. Cita rasanya khas, tak tergantikan. Dan ia ingin lebih banyak orang merasakannya. Karena itu, Pramono mendorong agar para pelaku usaha dodol mendapatkan dukungan dari Pemprov DKI, termasuk modernisasi peralatan produksi, tanpa menghilangkan nilai tradisional yang menjadi ciri khas. "Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi jangan sampai yang tradisionalnya hilang. Justru di situlah kekhasan dan keunggulannya," pesannya.

Keberkahan Ramadhan di Dapur-Dapur Bekasi

Aroma yang sama, namun di tempat berbeda, juga tercium di Kampung Ceger, Desa Sukajaya, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Bekasi. Di sini, Wulan (39) tengah kalang-kabut menghadapi banjir pesanan. Dapur produksinya nyaris tak pernah sepi sejak awal Ramadhan.

"Pesanan dodol Betawi untuk Ramadhan melonjak hingga 10 kali lipat dibandingkan hari biasa. Produksi meningkat 100 persen," katanya di tengah kesibukan.

Lima kuali besar berjejer di dapur rumahnya. Masing-masing berkapasitas 90 kilogram adonan. Setiap hari, selama Ramadhan, ia menghasilkan 450 kilogram dodol. Jika ditotal hingga menjelang Idulfitri, bisa mencapai 12 ton. "Puncak penjualan biasanya terjadi pada 10 hari terakhir menjelang Lebaran," tambahnya.

Wulan tak hanya memproduksi dodol original. Ia juga membuat varian rasa cokelat dan ketan hitam. Harganya bervariasi, dari Rp40 ribu hingga Rp70 ribu per kilogram. Omzet? Wulan tersenyum. "Ya pasti mengikuti. Semakin tinggi produksi, semakin banyak uang yang masuk."

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |