Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia Sebegitu Parahnya Sampai Disorot NASA

4 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia semakin parah hingga Lembaga Antariksa Amerika Serikat (NASA) sampai ikut menyorotinya. NASA bahkan mengunggah artikel khusus yang mengilustrasikan gelapnya langit Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

"Gambar dari satelit NASA ini menggambarkan asap menyelimuti Indonesia dan Malaysia pada 1 September 2026. Titik-titik merah telah ditambahkan di mana instrumen dari satelit MODIS mendeteksi indikasi anomali panas dari kebakaran," demikian unggahan NASA di akun X, @NASAEarth yang menampilkan foto satelit.

Lewat artikelnya, kebakaran pada lahan gambut kering yang terjadi di Indonesia yang terbakar di tanah basah yang mengering terbakar secara lambat, tinggi polusi, dan terkenal sulit dipadamkan karena mereka membara dalam temperatur rendah dan sering terbakar di bawah tumpukan deposit gambut yang tebal.

Dalam satu estimasi menurut NASA, gambut yang terbakar menhasilkan tiga kali partikel dibanding kebakaran di hutan tropis, lima kali lebih banyak dari sulfur oksida, tiga kali lebih banyak dari karbon organik, dan dua kali lebih banyak dari metana dan carbon monoksida.

Kebakaran gambut memunculkan sebuah tantangan di Indonesia, di mana Indonesia adalah tuan rumah dari 36 persen dari total lahan gambut tropis yang ada di dunia. Saat gambut mengering akibat musim kemarau panjang lanskap lahan gambut di Indonesia menjadi ladang kebakaran pada beberapa momen dalam tiga dekade terakhir, yang memproduksi selimut asap selama berpekan-pekan dan mengganggu akvitisa jutaan warga.

Saat kebakaran terjadi setiap tahunnya di Indonesia - fenomena El Nino sebelumnya terjadi pada 1997 dan 2015 - kebakaran memproduksi panas ekstrem pada beberapa dekade. Pola iklim, yang diasesmen oleh NOAA saat ini dan menguat pada Agustus, secara tipikal memicu pengurangan tajam curah hujan yang turun di Indonesia.

"Indonesia baru tiga pekan berada pada musim kebakarannya, tapi kita melihat aktivitas kebakaran yang melaju secara tajam, sama seperti 2015," kata Robert Field, peneliti dari Universitas Columbia.

"El Nino yang kuat membuat musim kemarau lebih kering melampaui wilayah yang paling rentan di Indonesia dan memperburuk kebakaran, sebagaimana yang kita antisipasi itu akan terjadi," kata Field.

Pada 2015, setelah kebakaran terjadi lebih dari tiga bulan, Indonesia melepaskan 1,75 miliar ton gas efek rumah kaca. Per 2 September, kebakaran di Indonesia pada tahun ini telah terjadi sekitar sebulan, telah melepas sekitar 10 persen dari yang pernah terjadi pada kebakaran 2015.

Sama seperti 2015, Indonesia saat ini berada di tengah kondisi kekeringan yang parah dan meluas. Sekitar 90 persen dari total area di Indonesia menerima sedikit hujan pada awal Agustus, menurut data BMKG. Normalnya, terlalu basah bagi api untuk merambat melalui deposit gambut bawah tanah di Kalimantan, Sumatra, dan Papua, tapi perambatan bisa terjadi dalam kondisi kering.

"Kebakaran di permukaan kurang dikhawatirkan, tapi saat api merambat di bawah tanah, mereka tidak akan berhenti merambat," kata Field.

"Api akan tetap membara hingga hujan datang pada Oktober atau November."

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |