Tanda mesin pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di salah satu SPBU di Jakarta, Rabu (10/6/2026). Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga jual BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 per liter naik menjadi Rp17.000 per liter yang berlaku per 10 Juni.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Abra Talattov mengatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax mungkin tidak akan memicu lonjakan inflansi ekstrem. Tapi ia memperingatkan pemerintah perlu memperhatikan dampak penyesuaian harga pada masyarakat terutama kelompok kelas menengah perkotaan yang masih bergantung pada kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari karena terjadi ketika tekanan biaya hidup mulai meningkat.
“Dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli kelas menengah kemungkinan tidak langsung terlihat sebagai lonjakan inflasi nasional yang ekstrem, tetapi akan terasa pada biaya hidup harian,” kata Abra, Sabtu (13/6/2026).
Ia mencatat data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, inflasi tahunan pada Mei 2026 tercatat sebesar 3,08 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan April 2026 yang sebesar 2,42 persen yoy.
“Artinya, ruang konsumsi masyarakat sudah mulai tertekan sebelum kenaikan Pertamax terbaru sepenuhnya tercermin dalam inflasi bulan berikutnya,” katanya.
Pemerintah sebelumnya menegaskan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dengan mempertimbangkan kondisi pasar energi global, termasuk dinamika geopolitik dan biaya distribusi energi. Penyesuaian tersebut juga belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian untuk tetap menjaga daya beli masyarakat.
Sementara itu, BBM bersubsidi seperti Pertalite tidak mengalami penyesuaian harga dan tetap diberikan sesuai peruntukannya. Abra menilai dampak kenaikan Pertamax terhadap daya beli kemungkinan tidak akan langsung terlihat dalam bentuk lonjakan inflasi nasional yang besar, tetapi lebih terasa melalui kenaikan biaya hidup harian.
“Kelas menengah menghadapi kombinasi tekanan dari biaya transportasi, pangan, pendidikan, cicilan, dan kebutuhan rumah tangga,” ujarnya.
sumber : ANTARA

2 hours ago
5

















































