Tren Early Bird Dinner Lagi Populer, Apa Sih Ini?

1 hour ago 1

Tren Early Bird Dinner yang mendorong orang menyelesaikan makan malam sebelum pukul 17.00. Salah satu manfaatnya adalah berat badan yang lebih stabil.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tren makan malam lebih awal atau Early Bird Dinner yang ramai di media sosial kembali menjadi sorotan setelah sebuah penelitian menunjukkan potensi manfaatnya bagi kesehatan. Penelitian tersebut menemukan bahwa membatasi waktu makan hingga delapan jam per hari, dengan makan malam lebih awal, dapat membantu mempertahankan penurunan berat badan dalam jangka panjang.

Penelitian yang dilakukan di Granada, Spanyol, melibatkan 99 orang dewasa yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Para peserta dibagi ke dalam empat kelompok, yakni tiga kelompok yang membatasi waktu makan selama delapan jam dengan jadwal berbeda serta satu kelompok yang tetap menjalani pola makan seperti biasa selama lebih dari 12 jam sehari. Seluruh peserta juga mendapat edukasi mengenai pola makan Mediterania.

Setelah menjalani intervensi selama 12 pekan, para peneliti tidak lagi memberikan arahan khusus dan membiarkan peserta kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Hasil pemantauan setahun kemudian menunjukkan bahwa kelompok yang makan lebih awal maupun lebih lambat mampu mempertahankan penurunan berat badan sekitar 2,3 hingga 2,7 kilogram lebih banyak dibanding kelompok yang tidak membatasi waktu makan. Namun, hanya kelompok yang makan lebih awal yang masih menunjukkan penurunan massa lemak secara signifikan.

Dalam penelitian tersebut, peserta kelompok makan lebih awal umumnya mengonsumsi makanan antara pukul 09.30 hingga sekitar 17.15. Jadwal ini serupa dengan tren Early Bird Dinner yang mendorong orang menyelesaikan makan malam sebelum pukul 17.00.

Meski demikian, dikutip dari ABC News, Kamis (30/7/2026), para ahli mengingatkan agar hasil penelitian tersebut tidak langsung dijadikan pedoman umum. Dokter spesialis penyakit dalam yang berfokus pada obesitas dan kesehatan, Dr Nishtha Modi, menilai penelitian tersebut masih memiliki keterbatasan karena jumlah pesertanya relatif kecil dan tidak semua peserta mengikuti evaluasi hingga satu tahun.

Selain itu, kelompok yang membatasi waktu makan juga mengalami penurunan massa bebas lemak, termasuk massa otot. Karena itu, peneliti menyarankan pola makan seperti ini sebaiknya disertai latihan kekuatan (resistance training) serta asupan protein yang memadai untuk membantu menjaga massa otot.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |