ELEKTABILITAS Presiden Prabowo Subianto dalam survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) turun drastis. Pakar komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, mengatakan Prabowo perlu evaluasi besar-besaran untuk memperbaikinya, termasuk dengan kocok ulang atau reshuffle kabinet.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Hasil survei SMRC memperlihatkan dalam 9 bulan terakhir elektabilitas Prabowo di simulasi semi terbuka menurun dari 34,9 persen pada November 2026 menjadi 14,5 persen di survei Juli 2026. Sementara, di periode yang sama, elektabilitas Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi naik dari 19,7 persen menjadi 35 persen.
Hasil survei itu sejalan dengan menurunnya kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo. Pada November 2025 kepuasan publik terhadap kinerja Prabowo 81,2 persen dan pada Juli 2026 turun menjadi 51,1 persen.
Menurut Jamiluddin, menurunnya elektabilitas wajib membuat Prabowo waspada. "Tentu menjadi lampu kuning bagi Prabowo bila ingin mencalonkan kembali pada Pilpres mendatang," kata dia dalam keterangannya, Jumat, 30 Juli 2026.
Ia berujar, bila penurunan elektabilitas Prabowo konsisten, maka peluang Prabowo terpilih kembali pada Pilpres 2029 akan relatif kecil. Bahkan jika Prabowo gagal membenahi kondisi ekonomi, politik, dan penegakan hukum, maka elektabilitasnya bisa semakin anjlok.
Karena itu, Jamiluddin berujar, Prabowo mau tidak mau harus segera mencari solusi yang cukup drastis. Salah satunya dengan mengevaluasi semua menteri bidang ekonomi, politik, dan hukum. "Prabowo harus tegas dan berani me-reshuffle menteri di tiga bidang tersebut," kata dia.
Jamiluddin berujar, tanpa keberanian mengganti para menteri di tiga bidang itu, akan sulit bagi Prabowo untuk memulihkan kepercayaan masyarakat. "Sebab menteri di tiga bidang ini menjadi penyebab menurunnya kepuasan publik terhadap kinerja Presiden Prabowo," tuturnya.
Pilihan tersebut, kata Jamiluddin, memang teramat sulit. "Tapi hal itu tampaknya harus diambil bila Prabowo memang ingin mendongkrak kembali elektabilitasnya," ucap mantan dekan FIKOM IISIP Jakarta ini.
Elektabilitas Prabowo kalah dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dalam sigi yang dilaksanakan SMRC pada 5-19 Juli 2026. "Ini menarik karena Prabowo, sebagai petahana yang belum lama memenangkan pemilihan presiden, tapi elektabilitasnya melemah begitu kuat," kata Direktur Eksekutif SMRC Deni Irvani pada Rabu, 29 Juli 2026.
Deni menjelaskan populasi survei ini adalah seluruh warga Indonesia yang punya hak pilih. Sebanyak 749 responden secara acak. Warga yang memiliki telepon diwawancarai lewat telepon (83,8 persen), sementara yang tidak punya telepon diwawancarai dengan tatap muka (16,2 persen).
Proporsi ini sesuai dengan populasi pengguna telepon seluler dan yang tak menggunakannya. Margin of error survei SMRC lebih kurang 3,7 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.















































