Analisis Indef: Mayoritas Warga Respons Negatif Kenaikan Pertamax, Khawatir Pertalite Langka

5 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Institute for Development of Economics and Finance (Indef) melakukan analisis untuk menggali respons masyarakat di media sosial terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) per 10 Juni 2026. Analisis tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat merespons kebijakan itu secara negatif serta menyoroti dampak pergeseran pengguna Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite.

Analisis Indef menggunakan 648.723 data yang dikumpulkan dalam periode 9-11 Juni 2026. Sumber data utama berasal dari perbincangan di X, komentar pada kanal berita populer di YouTube, dan Threads.

“Dominasi sentimen negatif: respons publik terhadap kenaikan harga Pertamax sebesar 30 persen ini (dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter) didominasi sentimen negatif sebesar 98,12 persen, sementara sentimen positif hanya mencakup 1,88 persen. Masyarakat kecewa terhadap inkonsistensi pemerintah dalam menjaga keseimbangan harga BBM,” tulis Indef dalam materi yang dipaparkan pada diskusi bertajuk Daya Beli Tertekan, Ketahanan Ekonomi Dipertaruhkan, Ahad (14/6/2026).

Indef menjelaskan, respons negatif masyarakat terhadap kenaikan harga Pertamax tercermin dalam tiga bentuk emosi, yakni marah, takut, dan sedih. Rasa marah menjadi emosi yang paling dominan karena kenaikan harga yang mendadak dianggap semakin menyulitkan kondisi ekonomi masyarakat.

Pernyataan pemerintah yang menyebut kondisi tetap aman, sementara sebagian masyarakat merasakan situasi yang berbeda, menjadi salah satu pemicu kemarahan publik. Selain itu, banyak masyarakat menilai kondisi ekonomi saat ini sedang sulit sehingga kenaikan harga BBM dianggap sebagai tambahan beban.

“Kemudian rasa takut. Publik khawatir kenaikan Pertamax akan disusul oleh kenaikan Pertalite atau bahkan memicu krisis ekonomi,” terangnya.

BBM jenis Pertalite merupakan salah satu BBM yang disubsidi pemerintah. Muncul anggapan bahwa pengguna Pertamax berpotensi beralih ke Pertalite yang harganya lebih terjangkau. Kondisi tersebut dikhawatirkan meningkatkan konsumsi Pertalite oleh berbagai kelompok masyarakat, padahal sasaran utama subsidi adalah masyarakat menengah ke bawah.

Selanjutnya, emosi sedih tercermin dari berbagai keluhan warganet mengenai tekanan ekonomi yang dirasakan berturut-turut, mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah, terbatasnya lapangan kerja, hingga pendapatan yang dinilai stagnan.

“Topik perbincangan utama: isu yang paling banyak disinggung masyarakat adalah ‘nasib Pertalite’ (50,98 persen), mengungguli topik keterkejutan publik (26,92 persen), efek domino kenaikan Pertamax (13,86 persen), maupun isu demonstrasi (8,25 persen). Masyarakat mencurigai kenaikan Pertamax sebagai pembuka jalan menuju kelangkaan atau kenaikan harga Pertalite karena adanya migrasi pola konsumsi,” ungkap Indef.

Indef menjelaskan, temuan tersebut menarik karena dalam perbincangan yang berkaitan dengan kata kunci “Pertamax” dan “BBM non-subsidi”, isu Pertalite menjadi topik paling dominan dibandingkan respons terhadap kebijakan kenaikan harga maupun pembahasan mengenai efek domino dan aksi demonstrasi.

Namun demikian, Indef mencatat kata kunci “Pertalite” juga muncul pada topik lain, termasuk pembahasan mengenai potensi kelangkaan Pertalite akibat perpindahan konsumen dari Pertamax.

Nasib Pertalite

Terkait kekhawatiran bahwa Pertalite akan bernasib sama dengan Pertamax, Indef menjelaskan masyarakat cenderung khawatir kenaikan harga Pertamax yang cukup tajam akan memicu perubahan pola konsumsi BBM.

“Nampaknya, kenaikan Pertamax oleh warganet banyak dicurigai sebagai intro atau bridging menuju kenaikan harga atau kelangkaan Pertalite. Menurut mereka, dengan kenaikan 30 persen tersebut, konsumen Pertamax akan beralih ke Pertalite yang pada akhirnya berdampak pada kelangkaan stok dan berpotensi memicu kenaikan harga Pertalite,” jelasnya.

Perubahan pola konsumsi tersebut juga dikhawatirkan membuat penyaluran subsidi menjadi tidak tepat sasaran, terutama jika tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai dari pemerintah.

“Pada akhirnya rakyat kecil yang juga akan terkena dampaknya akibat kelangkaan bahan bakar minyak bersubsidi,” tegasnya.

Indef menambahkan, analisis tersebut juga menunjukkan adanya kritik sosial dan kekhawatiran terhadap efek domino kebijakan. Warganet aktif menyampaikan kritik dengan menyebut akun @pertamina serta akun partai politik @gerindra untuk membandingkan sikap pada masa lalu dengan kondisi saat ini.

Selain itu, terdapat kekhawatiran mengenai efek domino kenaikan harga BBM non-subsidi yang berpotensi berdampak pada rantai pasok dan memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan masyarakat.

sumber : Antara

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |