Trump: Pemimpin Israel-Libanon Mulai Bicara dalam 34 Tahun

2 hours ago 1

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pada Rabu malam bahwa para pemimpin Israel dan Libanon akan berbicara langsung satu sama lain pada Kamis 16 April 2026 untuk pertama kalinya dalam sekitar tiga dekade.

"Mencoba untuk memberi sedikit ruang bernapas antara Israel dan Libanon. Sudah lama sejak kedua pemimpin berbicara, sekitar 34 tahun. Itu akan terjadi besok," tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social seperti dilansir Anadolu.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Namun, jurnalis Aljazeera mengatakan seorang pejabat Libanon menegaskan tidak ada informasi yang tersedia mengenai kemungkinan panggilan telepon antara pemimpin Libanon dan Israel.

“Tidak ada detail lebih lanjut yang muncul mengenai kemungkinan pertemuan kedua para duta besar di Washington – seperti yang diisyaratkan dalam cuitan Trump," tulis jurnalis Zeina Khodr dalam sebuah unggahan di media sosial.

Ia menggambarkan pernyataan presiden AS tersebut sebagai "kontroversial".

"Ini benar-benar tabu di Libanon, seorang pemimpin Libanon dan pemimpin Israel berbicara pada saat kedua negara secara teknis masih dalam keadaan perang, pada saat Israel terus menyerang negara itu," katanya.

Pengumuman ini menyusul pertemuan pada Selasa di Departemen Luar Negeri AS di Washington.

Pertemuan itu dihadiri Duta Besar Lebanon Nada Hamadeh dan Duta Besar Israel Yechiel Leiter yang diselenggarakan oleh Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bersama Duta Besar AS untuk Libanon Michel Issa, Penasihat Departemen Luar Negeri AS Michael Needham, dan Duta Besar AS untuk PBB Mike Waltz.

Kelompok Hizbullah tidak diwakili dalam pertemuan tersebut.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa ia telah meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengurangi serangan terhadap Libanon dan diberitahu bahwa Israel akan "mengurangi" operasi.

Netanyahu mengatakan pada Rabu bahwa, terlepas dari pembicaraan yang telah dilakukan, ia telah memerintahkan militer untuk memperluas invasi ke Libanon selatan, ke arah timur.

Libanon terseret ke dalam perang AS-Israel melawan Iran pada tanggal 2 Maret, setelah Hizbullah yang bersekutu dengan Teheran menembakkan roket ke Israel.

Hizbullah mengatakan serangan itu sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei oleh Israel pada hari pertama perang, 28 Februari, serta pelanggaran gencatan senjata yang hampir setiap hari dilakukan Israel di Libanon sejak November 2024.

Sejak saat itu, pasukan Israel telah membunuh lebih dari 2.000 orang di Lebanon dan menyebabkan sekitar 1,2 juta orang mengungsi. Pada Rabu pekan lalu, serangan udara Israel ke ratusan target dalam 10 menit menewaskan sedikitnya 350 orang, hampir seluruhnya warga sipil Libanon.

Militer Israel juga telah melancarkan invasi darat di Lebanon selatan, berupaya merebut lebih banyak wilayah dan menciptakan apa yang disebutnya sebagai "zona penyangga".

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |