REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Epilepsi pada anak masih menjadi masalah, tidak hanya di Indonesia tapi juga secara global. Sekitar 20-30 persen kasus epilepsi di anak tidak terkontrol.
Dokter spesialis anak konsultan neurologi di RSIA Bunda Jakarta, Achmad Rafli, mengatakan gejala epilepsi pada anak itu kadang tidak diketahui oleh orang tua. "Yaitu kejang yang terjadi tanpa ada demam atau apapun dan berulang selama lebih dari 24 jam, kita harus menanggapi sebagai kemungkinan epilepsi dan inilah yang kita sebagai dokter syaraf anak harus lakukan pemeriksaan lebih lanjut salah satunya EEG atau Electroencephalogram," terangnya.
Pemeriksaan EEG sangat penting bagi pasien epilepsi. Dokter Rafli mengatakan saat ini EEG membutuhkan ruangan khusus. "Tapi perkembangan teknoiogi kita menyediakan EEG yang sudah bisa dibawa di dalam tas dan ini buat pasien bisa membaca datanya real time," sambung dia.
Lewat data EEG, dokter jadi bisa mendiagnosis kondisi secara lebih tepat. "Epilepsi itu bisa kalau dikontrol. Selama ini epilepsi mendapat stigma negatif, epilensi ayan nggak ya, nular nggak ya. Dan ini tidak baik karena tidak menular tapi pasien dikucilkan," kata dokter Rafli.
Ia menegaskan lagi, epilepsi bisa dikendalikan dengan pemeriksaan yang benar, dengan pengobatan yang benar, oleh tenaga yang ahli di bidangnya.
Bertepatan dengan peringatan Hari Epilepsi Sedunia, Ahad (27/4/2026), PT Bundamedik Tbk melalui RSIA Bunda Jakarta meresmikan Pediatric Neurology Center atau Pusat Neurologi Anak sebagai layanan terpadu untuk diagnosis dan penanganan gangguan neurologis pada anak.
Kehadiran pusat layanan ini menjadi respons atas kebutuhan penanganan gangguan saraf anak yang tidak hanya presisi, tetapi juga mempertimbangkan kenyamanan pasien. Salah satu tantangan utama dalam pemeriksaan neurologis adalah prosedur EEG konvensional yang cenderung membuat anak merasa cemas karena alat yang besar dan lingkungan medis yang kurang ramah.
Sebagai alternatif, pusat ini memanfaatkan teknologi EEG portabel yang memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara lebih fleksibel. Anak dapat menjalani pemeriksaan dalam kondisi lebih natural, seperti saat bermain atau beristirahat, sehingga data yang dihasilkan dinilai lebih akurat sekaligus meminimalkan stres pada pasien.
Dokter Rafli, menjelaskan bahwa pendekatan ini membantu tenaga medis memperoleh gambaran aktivitas otak yang lebih representatif. “Pemeriksaan bisa dilakukan saat anak dalam kondisi rileks, sehingga membantu penegakan diagnosis, termasuk pada kasus epilepsi yang kompleks,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan perangkat portabel yang ringkas dan non-invasif juga dinilai mampu mengurangi gangguan sinyal atau artefak yang kerap muncul akibat ketidaknyamanan pasien selama pemeriksaan.
Pusat Neurologi Anak ini didukung oleh tim multidisiplin, mulai dari dokter spesialis anak konsultan neurologi, terapis tumbuh kembang, hingga tenaga keperawatan terlatih. Layanan yang diberikan mencakup diagnosis dan penanganan epilepsi, evaluasi gangguan perkembangan saraf, penanganan kejang demam, hingga rehabilitasi medik terintegrasi.
Peresmian ini juga diikuti diskusi panel yang melibatkan sejumlah pakar serta perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia dan komunitas pemerhati epilepsi anak. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting untuk meningkatkan kualitas penanganan gangguan neurologi anak di Indonesia.
Dengan pendekatan komprehensif, layanan ini diharapkan dapat mendorong deteksi dini gangguan neurologis sehingga intervensi bisa dilakukan lebih cepat dan risiko dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak dapat ditekan. Selain itu, pengembangan riset klinis, termasuk pemanfaatan teknologi berbasis kecerdasan buatan, juga mulai diarahkan untuk mendukung diagnosis dan terapi yang lebih personal.

4 hours ago
1
















































