Sejumlah lilin dan karangan bunga dukacita diletakkan di depan gerbang Pusat Islam San Diego di San Diego, California, AS, Selasa (19/5/2026) waktu setempat. Tiga orang meninggal dunia akibat aksi penembakan brutal yang dilakukan dua remaja di Pusat Islam San Diego. Korban meninggal adalah petugas keamanan Amin Abdullah dan dua warga yakni Mansour Kaziha dan Nadir Awad.
REPUBLIKA.CO.ID, SAN DIEGO -- Sebulan setelah penembakan di Islamic Center San Diego, Amerika Serikat (AS) yang merenggut tiga korban jiwa, hampir sembilan dari 10 Muslim di San Diego mengatakan mereka merasa kurang aman di komunitas mereka, menurut survei yang dirilis pada Kamis (18/6/2026).
Laporan baru dari Pusat Kebijakan Imigrasi AS UC San Diego ini menyurvei 312 orang dewasa Muslim setempat selama sebulan terakhir. Temuan survei menunjukkan bagaimana komunitas Muslim memandang keamanan, rasa memiliki, dan respons penegak hukum.
Beberapa temuan utama menunjukkan 88 persen responden setuju penembakan tersebut membuat mereka merasa kurang aman di komunitas mereka. Sebanyak 74 persen melaporkan lebih khawatir terhadap keselamatan pribadi karena mereka seorang Muslim.
Hampir dua pertiga responden melaporkan pernah mengalami diskriminasi di San Diego dalam 12 bulan terakhir karena identitas mereka sebagai Muslim. Hampir setengah dari responden yang disurvei merasa penegak hukum tidak menganggap serius ancaman terhadap Muslim.
Pada 18 Mei, tiga pria kehilangan nyawa ketika dua remaja bersenjata melepaskan tembakan di halaman masjid di lingkungan Clairemont, San Diego. Kedua pelaku penembakan kemudian bunuh diri.
Direktur Islamic Center, Imam Taha Hassane, mengatakan serangan itu menggarisbawahi ancaman meningkatnya kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat.
sumber : Antara

6 hours ago
2

















































