PEMAHAMAN masyarakat mengenai strabismus atau mata juling hingga kini dinilai masih sangat terbatas. Kondisi ini sering kali hanya dianggap sebagai persoalan penampilan luar, atau mitos bahwa posisinya akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia anak. Padahal, mata juling merupakan kondisi medis nyata akibat tidak sejajarnya posisi kedua mata yang memerlukan pemeriksaan serta penanganan tepat sejak dini.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Mata juling dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Jika kondisi ini diabaikan dan tidak segera ditangani oleh tim medis, dampaknya bisa sangat mengganggu fungsi penglihatan pasien. Risiko yang dihadapi di antaranya adalah hilangnya kemampuan melihat objek secara tiga dimensi, kesulitan memperkirakan jarak, hingga memicu gangguan penglihatan yang lebih berat seperti ambliopia atau mata malas. Oleh karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk mencegah dampak buruk tersebut.
Pada beberapa kasus, kondisi ini muncul secara terus-menerus. Namun pada kasus lain, gejala mata juling hanya tampak sesekali. Misalnya, saat seseorang atau anak-anak sedang berada dalam kondisi lelah, mengantuk, melamun, atau kurang sehat. Bahkan, ada jenis strabismus yang sama sekali tidak tampak dalam aktivitas harian dan baru bisa diketahui melalui pemeriksaan mata yang lebih teliti.
Menanggapi fenomena tersebut, orang tua diimbau untuk lebih peka terhadap perkembangan mata anak sejak bayi. Pada bayi, mata yang tampak tidak sejajar memang bisa terjadi karena koordinasi saraf mata yang belum matang sepenuhnya. Namun, apabila kondisi mata yang tidak sejajar ini terus menetap setelah bayi melewati usia enam bulan, orang tua disarankan untuk segera membawanya berkonsultasi ke dokter spesialis mata.
Melalui pemeriksaan sejak dini, dokter dapat mengidentifikasi penyebab pasti dari strabismus tersebut. Kelainan ini umumnya dipicu oleh beberapa faktor, seperti gangguan pada otot mata, masalah persarafan, faktor genetik (keturunan), hingga adanya kelainan refraksi seperti minus, plus, atau silinder yang tidak terkoreksi dengan baik.
Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Group sekaligus dokter spesialis mata Tjahjono D. Gondhowiardjo menjelaskan bahwa masyarakat harus mulai mengubah kebiasaan mereka terhadap kondisi strabismus.
“Mata juling bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang perlu diperiksa. Semakin dini diketahui, semakin besar peluang anak mendapatkan tata laksana yang sesuai dan hasil yang lebih optimal,” ujar Tjahjono dalam keterangan pers pada hari Kamis, 25 Juni 2026.
Metode Terapi Medis dan Kesadaran Masyarakat
Dalam ranah medis, tata laksana untuk mengatasi strabismus dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan kondisi unik dari setiap pasien. Langkah awal yang wajib dilakukan adalah pemeriksaan menyeluruh demi mendeteksi sumber masalah utamanya.
Setelah diagnosis, ada beberapa pilihan penanganan yang dapat direkomendasikan oleh dokter mata. Pada sebagian pasien, koreksi sederhana menggunakan kacamata sudah cukup membantu untuk memperbaiki fokus dan menyeimbangkan posisi mata. Namun pada kondisi yang lebih spesifik, dokter dapat memberikan terapi patching (penutupan satu mata) untuk melatih otot mata yang lebih lemah, vision therapy untuk memperbaiki koordinasi otot dan saraf, hingga tindakan bedah atau operasi apabila dinilai perlu berdasarkan kebutuhan medis.
Peningkatan kesadaran pentingnya kesehatan mata ini terbukti mulai menggerakkan masyarakat untuk lebih berani mencari informasi dan melakukan pemeriksaan. Berdasarkan data JEC Eye Hospitals & Clinics, angka tindakan medis untuk strabismus tercatat mengalami kenaikan sebesar 29 persen pada 2025 dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menjadi indikator positif bahwa edukasi yang luas dapat membantu masyarakat melepaskan diri dari stigma sosial dan beralih fokus pada penanganan medis yang tepat.
LAODE MUHAMAD ASHEGAF


















































