Menlu Araghchi: AS Kini Memohon Iran untuk Bernegosiasi

14 hours ago 8

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Amerika Serikat gagal memaksa Teheran untuk menyerah selama perang. AS bahkan disebut telah memohon ke Iran untuk bernegosiasi.

"Amerika sekarang memohon untuk bernegosiasi dengan kami sesuai dengan syarat-syarat kami," kata Araghchi dalam sebuah pernyataan yang dimuat oleh Al Jazeera pada Selasa (18/8/2026).

Ia mengeklaim bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Washington berisi 13 ketentuan yang menguntungkan Teheran. "Hanya satu yang menguntungkan mereka," katanya sambil menuduh Israel mencoba untuk menyabotase pelaksanaannya.

"Kami memenangkan perang, dan kami juga menang dalam diplomasi, dan kami memaksa musuh untuk menerima syarat-syarat kami," kata Araghchi.

Ia menambahkan bahwa kemampuan militer dan medan perang Iran memperkuat posisi negosiasi diplomat Teheran.

Konflik terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dalam skala militer besar dimulai pada 28 Februari 2026. AS dan Israel meluncurkan serangan udara besar-besaran terhadap situs militer dan nuklir Iran. Teheran membalas dengan melancarkan serangan ke Israel dan negara sekutu AS di Timur Tengah. Upaya negosiasi setelah kesepakatan gencatan senjata belum menuai hasil. 

Presiden Donald Trump pada Selasa menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang melakukan pembicaraan dengan Iran—dan tidak menjadwalkan pembicaraan apa pun—namun di saat yang sama bersikeras bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.

Pemimpin AS tersebut menegaskan meskipun blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran tetap 'berlaku sepenuhnya, namun semua lalu lintas laut lainnya bebas untuk melintas. Ia juga mengunggah peta yang menggambarkan jalur air strategis tersebut sebagai wilayah AS.

Komentar ini merupakan perubahan sikap terbaru dari Trump. Pada Senin, ia sempat mengklaim bahwa AS sedang melakukan pembicaraan melalui jalur tidak resmi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Teheran dengan cepat membantah klaim tersebut.

Pernyataan Selasa itu tampaknya mencerminkan rasa frustrasi Trump, mengingat Iran dan Oman—negara-negara yang berbatasan dengan Hormuz—terus melakukan pembicaraan mengenai pengelolaan selat tersebut.

"Tidak ada pembicaraan atau percakapan yang sedang berlangsung, ataupun yang dijadwalkan, dengan Republik Islam Iran. Blokade Angkatan Laut tetap berlaku sepenuhnya. Selat Hormuz terbuka dan beroperasi. Semua ranjau laut telah disingkirkan atau diledakkan," tulis Trump.

Iran menegaskan kembali bahwa Hormuz akan tetap ditutup sampai Washington memenuhi ketentuan dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani kedua belah pihak pada Juni. MoU itu dibuat untuk mengakhiri permusuhan yang bermula pada Maret.

Kazem Gharibabadi, Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, tampaknya menanggapi unggahan Trump tersebut.

"Sama seperti Trump yang menuliskan nama Teluk Persia yang abadi dengan benar, tak lama lagi delusinya mengenai Selat Hormuz akan dikoreksi, atau kami yang akan meluruskan delusi pria yang sedang berkhayal ini," tulis Gharibabadi di media sosial.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |