KETIKA bahasa dan kata-kata tidak lagi mampu menjangkau kedalaman makna, seni hadir sebagai bahasa yang lain. Bahasa verbal sering kali terjebak dalam keterbatasan. Ia hanya menyampaikan apa yang dapat diucapkan, sementara pengalaman spiritual, kegelisahan batin, dan kerinduan manusia kepada Yang Transenden kerap melampaui kemampuan kata-kata.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di tangan Abdul Djalil Pirous atau A.D. Pirous, keterbatasan itu tidak dihapuskan, melainkan diolah untuk melahirkan jiwa ke dalam objek artistik. Huruf-huruf Arab, ayat-ayat Al-Quran, warna, tekstur, dan ruang kosong dipadukan menjadi medium yang tidak sekadar indah dipandang, tetapi juga mengajak manusia tenggelam dalam karyanya.
Kepergian A.D. Pirous pada April 2024 meninggalkan warisan besar bagi dunia seni rupa Indonesia. Ia bukan hanya dikenal sebagai pelopor seni lukis kaligrafi modern Indonesia, tetapi juga sebagai seniman yang berhasil mempertemukan estetika, spiritualitas, dan pesan kemanusiaan dalam satu kesatuan karya. Melalui lukisan-lukisannya, seni tidak berhenti sebagai ekspresi personal, melainkan menjadi sarana penyampaian nilai dan kesadaran. Di sinilah karya-karyanya dapat dibaca sebagai bentuk seni rupa profetik.
Konsep profetik berangkat dari gagasan bahwa seni tidak hanya bertugas menghasilkan keindahan, tetapi juga membawa pesan yang mampu mengarahkan manusia pada nilai-nilai kebaikan, kebenaran, dan ketuhanan. Seni profetik bukan sekadar seni yang berbicara tentang agama, melainkan seni yang menghadirkan dimensi transendensi, humanisasi, dan pembebasan. Dalam konteks ini, karya-karya A.D. Pirous menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi media dakwah kultural yang halus sekaligus mendalam.
Pandangan tersebut tidak lahir begitu saja. Dalam tradisi Islam, seni dipahami sebagai bagian dari kebudayaan yang berakar pada wahyu. Ismail Raji al-Faruqi menyebut kebudayaan Islam sebagai kebudayaan Qur'ani karena seluruh orientasi nilai dan pandangan hidupnya bersumber dari Al-Quran. Oleh sebab itu, seni Islam bukan hanya persoalan bentuk artistik, melainkan ekspresi estetis dari prinsip tauhid. Seni harus mampu mengingatkan manusia pada keberadaan Tuhan yang transenden, yang tidak dapat direpresentasikan secara fisik, tetapi dapat dihadirkan melalui pengalaman kontemplatif.
Kesadaran inilah yang tampak kuat dalam perjalanan artistik Pirous. Pengalaman melihat artefak seni Islam di Museum of Modern Art New York pada awal 1970-an menjadi titik balik penting dalam kariernya. Di sana, ia menemukan bahwa kaligrafi bukan sekadar tulisan, melainkan energi visual yang memuat dimensi spiritual. Sepulang ke Indonesia, ia mulai menghadirkan ayat-ayat Al-Quran ke dalam kanvas dengan pendekatan yang sama sekali baru.
Kaligrafi tidak lagi ditempatkan sebagai ornamen, melainkan menjadi pusat pengalaman estetik. Yang menarik, Pirous tidak memahami kaligrafi sebagai sesuatu yang beku dan eksklusif. Baginya, kaligrafi adalah bahasa visual yang hidup. Huruf bukan hanya bentuk, tetapi juga pembawa pesan. Karena itu, kaligrafi dapat berbicara tentang berbagai hal, yaitu ketuhanan, kemanusiaan, politik, sosial, bahkan kritik terhadap realitas zamannya. Pandangan ini membuat karya-karyanya berbeda dari kecenderungan kaligrafi yang hanya menonjolkan aspek dekoratif atau kesakralan tulisan Arab semata.
Dalam banyak lukisannya, ayat-ayat Al-Quran tampil seolah terukir pada batu-batu tua yang telah melewati perjalanan panjang sejarah. Tekstur retak, warna tanah, dan nuansa arkeologis menghadirkan kesan bahwa pesan Tuhan telah menyertai perjalanan manusia sejak dahulu hingga sekarang. Namun, kesan kuno tersebut justru dibingkai dalam komposisi visual yang modern. Perpaduan antara tradisi dan modernitas itu memperlihatkan kemampuan Pirous menjadikan wahyu tetap relevan bagi manusia kontemporer.
Seni rupa profetik dalam karya Pirous juga terlihat pada upayanya menghubungkan pesan ilahiah dengan realitas sosial. Ketika Aceh dilanda konflik berkepanjangan, ia menghadirkan karya-karya yang berbicara tentang perang, penderitaan, dan harapan perdamaian. Ketika melihat penyimpangan kekuasaan, ia tidak segan meresponsnya melalui bahasa seni. Dengan demikian, ayat-ayat Al-Quran dalam lukisannya tidak berhenti sebagai teks yang dipuja, tetapi menjadi sumber refleksi atas persoalan kemanusiaan yang nyata.
Di titik inilah karya Pirous memperlihatkan watak profetiknya. Ia tidak sekadar mengajak manusia mengingat Tuhan, tetapi juga mengingat sesama manusia. Pesan-pesan spiritual selalu berdampingan dengan kepedulian sosial. Dimensi transendensi berjalan seiring dengan dimensi humanisasi. Seni menjadi jembatan antara langit dan bumi, antara wahyu dan kehidupan sehari-hari.
Dalam salah satu wawancaranya, Pirous sendiri pernah menegaskan bahwa ia menyukai aspek literer dalam seni. Menurutnya, bahasa visual tidak hanya terdiri atas bentuk dan warna, tetapi juga pesan yang bergetar di dalamnya. Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa baginya seni bukanlah permainan estetika yang kosong. Sebuah karya harus mampu berbicara kepada publik, menyampaikan makna, dan menggerakkan kesadaran. Karena itulah, perjalanan kreatif Pirous dapat dipahami sebagai usaha mempertemukan dua identitas yang ada dalam dirinya yaitu sebagai seniman dan desainer.
Sebagai seniman, ia memiliki kebebasan berekspresi. Sebagai desainer, ia memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan pesan. Dalam lukisan-lukisan kaligrafinya, kedua identitas tersebut berpadu secara harmonis. Setiap elemen visual dirancang bukan hanya untuk memanjakan mata, tetapi juga untuk menghidupkan perenungan. Melalui kaligrafi, Pirous tidak sekadar melukis huruf. Ia menghidupkan wahyu dalam ruang estetika. Ia menjadikan kanvas sebagai medan dialog antara keindahan dan kebenaran. Dalam pengertian itulah, karya A.D. Pirous layak disebut sebagai seni rupa profetik, yaitu seni yang tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menghidupkan jiwa spiritual.
Lukisan Dia Mengajarmu dengan Kalam (2001) memperlihatkan bagaimana A.D. Pirous memaknai ilmu pengetahuan sebagai anugerah yang diberikan Tuhan kepada manusia. Terinspirasi dari Surah Al-'Alaq ayat 4, lukisan ini tidak hanya menampilkan kaligrafi biasa, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya membaca, menulis, dan belajar dalam kehidupan yang dinarasikan oleh estetika lukisannya.
Dominasi warna biru muda yang menyerupai hamparan laut menghadirkan suasana tenang dan mendalam, seakan mengajak penikmat karya menyelami ayat bagaimana umat muslim tenggelam di saat membaca kitab suci Al-Quran. Di bagian bawah, sentuhan biru yang lebih terang memberi kesan hidup dan dinamis, menggambarkan semangat manusia dalam mencari ilmu.
Melalui perpaduan warna, tekstur, dan kaligrafi, Pirous menghadirkan karya yang tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mengajak merenungkan bahwa kemampuan berpikir dan belajar merupakan karunia yang semestinya disyukuri serta dimanfaatkan untuk kebaikan. Dengan cara inilah, Pirous mentransformasi seni menjadi ruang perjumpaan nilai-nilai spiritual yang dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Lebih jauh, karya ini menunjukkan ciri khas Pirous yang tidak memisahkan seni dari pesan kemanusiaan. Kaligrafi yang ditampilkan bukan sekadar rangkaian huruf Arab yang berfungsi sebagai hiasan, melainkan medium yang membawa gagasan dan nilai. Bagi Pirous, ayat-ayat Al-Quran menghasilkan jiwanya sendiri ketika dihadirkan kembali melalui bahasa visual yang mampu meraih kesadaran penikmatnya.
Karena itu, lukisan ini dapat dipahami sebagai ajakan untuk melihat ilmu bukan hanya sebagai alat memperoleh pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana memahami diri sendiri, sesama manusia, dan Tuhan. Kesan luas yang dibangun oleh warna biru seolah mengingatkan bahwa proses belajar adalah perjalanan yang tidak pernah selesai, sebagaimana lautan yang menyimpan kedalaman yang tak pernah habis untuk dijelajahi.
KINAR LAIMAURA (Mahasiswa Universitas Padjadjaran)


















































