Melihat Mesin Jahit Bendera Merah Putih yang Masih Tersimpan di Rumah Fatmawati Bengkulu

1 hour ago 1

REPUBLIKA.CO.ID, BENGKULU -- Sebuah mesin jahit tua berwarna merah tampak tersimpan rapi di salah satu kamar Rumah Fatmawati di Jalan Fatmawati, Kota Bengkulu. Mesin jahit bersejarah itu menjadi koleksi paling berharga di museum yang dulunya merupakan rumah kelahiran Ibu Negara pertama Republik Indonesia tersebut.

Mesin jahit itu bukan sekadar benda antik. Dari alat sederhana itulah Fatmawati menjahit kain merah dan putih yang kemudian menjadi Sang Saka Merah Putih, bendera yang berkibar saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

Meski telah berusia puluhan tahun, kondisi mesin jahit tersebut masih terawat dengan baik. Keberadaannya menjadi daya tarik utama bagi pengunjung yang datang untuk menelusuri jejak perjuangan Fatmawati dan sejarah kemerdekaan Indonesia.

Adik sepupu Fatmawati sekaligus pengelola di Rumah Fatmawati, Marwan Amanadin, mengatakan mesin jahit yang kini dipajang di museum merupakan mesin asli yang digunakan Fatmawati untuk menjahit Bendera Pusaka.

"Mesin jahit itu sebenarnya jahit benderanya di Jakarta. Tapi karena tahu ini (Rumah Fatmawati) dijadikan museum, jadi dibawa sini. Mesin asli, mesin yang asli," kata Marwan saat ditemui di Rumah Fatmawati, Kamis (11/6/2026).

Keterampilan menjahit yang dimiliki Fatmawati sudah dipelajari sejak masa remaja. Kemampuan itu kemudian menjadi bagian penting dari sejarah bangsa ketika ia dipercaya menjahit Bendera Pusaka Merah Putih.

Menurut Marwan, mesin jahit tersebut dipindahkan dari Jakarta ke Bengkulu setelah rumah kelahiran Fatmawati ditetapkan sebagai museum pada era 1990-an. Tujuannya agar masyarakat dapat melihat langsung peninggalan bersejarah yang berkaitan dengan perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selain mesin jahit, rumah yang telah direnovasi menjadi museum itu juga menyimpan sejumlah koleksi bersejarah lain. Foto-foto perjalanan hidup Fatmawati terpajang di berbagai sudut ruangan. Para pengunjung juga dapat melihat banyak foto-foto Fatmawati bersama Bung Karno dan pakaian asli yang pernah dipakai oleh Fatmawati.

Sementara ranjang peninggalan keluarga juga masih dipertahankan sebagai bagian dari koleksi museum.

"Kalau tempat tidur, hanya ranjangnya saja yang asli, kalau kasurnya, sudah tidak asli lagi," ucapnya.

Marwan menjelaskan, Fatmawati lahir di rumah tersebut pada 1923 dan tinggal di sana hingga menikah dengan Bung Karno pada 1943. Setelah menikah, Fatmawati mengikuti Bung Karno ke Jakarta dan rumah itu kemudian ditempati keluarga lainnya sebelum akhirnya dijadikan museum.

"Fatmawati ini lahir rumah ini tahun 1923. Jadi pada tahun 90-an rumah ini direnovasi jadi museum kayak gini," katanya.

Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah daerah merenovasi rumah tersebut pada era 1990-an dan mengubahnya menjadi museum sejarah. Meski demikian, pemerintah tetap mempertahankan bentuk asli bangunan agar masyarakat dapat melihat langsung jejak kehidupan Fatmawati semasa muda.

"Kalau kayu bangunan ini menggunakan kayu meranti merah. Semuanya masih asli, hanya direnovasi saja," ucapnya menambahkan.

Kisah Fatmawati Bertemu Bung Karno

Dalam kesempatan ini, Marwan juga menceritakan bahwa Fatmawati pertama kali mengenal Bung Karno saat pemerintah kolonial Belanda mengasingkan sang Proklamator ke Bengkulu pada tahun 1938. Saat itu, Bung Karno tinggal bersama Inggit Garnasih selama menjalani masa pengasingan.

Meski berada jauh dari pusat pergerakan nasional, Bung Karno tetap aktif mengajar, berorganisasi, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Dari berbagai aktivitas tersebut, hubungan Bung Karno dan Fatmawati semakin dekat hingga akhirnya keduanya menikah pada tahun 1943.

"Pertemuan mereka bermula ketika Bung Karno menjalani pengasingan di Bengkulu. Dari perkenalan itu kemudian tumbuh hubungan yang akhirnya membawa mereka ke jenjang pernikahan," ujarnya.

Menurutnya, kisah pertemuan keduanya menjadi bagian penting dari sejarah Bengkulu karena dari kota inilah perjalanan rumah tangga Bung Karno dan Fatmawati bermula. Selain dikenal sebagai pendamping Presiden pertama RI, Fatmawati juga dikenang sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.

Marwan mengatakan, Fatmawati tidak pernah menjaga jarak dengan warga meski telah menjadi tokoh nasional.

"Fatmawati itu orang yang baik dan tidak sombong. Beliau sangat merakyat dan mudah bergaul dengan siapa saja," katanya.

Anggota Komisi A DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, yang berkunjung ke Rumah Fatmawati menilai peninggalan sejarah seperti mesin jahit tersebut penting untuk memperkenalkan perjuangan para pendiri bangsa kepada generasi muda.

"Alhamdulillah, saya kira kita semakin mengenali sejarah perjuangan bangsa ya. Sosok Bu Fatmawati yang ternyata sejak remajanya itu aktivis, punya kepedulian sosial yang tinggi, kepedulian atas kemerdekaan," kata Sofyan.

Ia menilai kisah hidup Fatmawati menjadi inspirasi bahwa semangat perjuangan dan kepedulian terhadap bangsa dapat tumbuh sejak usia muda. Di sisi lain, harapannya, dengan berbagai koleksi dan cerita yang tersimpan di museum tersebut, para pengunjung dapat menelusuri jejak perjalanan Fatmawati, mulai dari masa mudanya di Bengkulu, pertemuannya dengan Bung Karno, hingga kontribusinya dalam momen bersejarah lahirnya bangsa Indonesia.

"Jadi pahit getirnya saya kira itu inspirasi yang dapat kita ambil dari Bu Fatmawati," ujarnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |