Merebut Gen Z, Saat Bank Syariah Menjual Solusi Bukan Sekadar Label

2 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi Angela (26 tahun), bank syariah dulu terasa seperti sesuatu yang jauh dari dirinya. Perempuan Katolik asal Nusa Tenggara Timur itu mengira layanan tersebut hanya diperuntukkan bagi umat Islam.

“Awalnya saya pikir cuma orang Islam yang bisa pakai bank syariah,” katanya kepada Republika, pertengahan Juli lalu.

Anggapan itu terus melekat di benaknya. Istilah-istilah berbahasa Arab yang kerap digunakan membuatnya merasa bank syariah bukan untuk dirinya. Pandangan tersebut berubah setelah seorang teman mengenalkannya pada tabungan berakad wadiah di Maybank Syariah. Belakangan, ia juga mulai menabung emas melalui fitur Tabungan Emas Pegadaian di aplikasi M2U ID Maybank.

“Yang saya suka karena enggak ada biaya admin. Kalau tabungan emas juga menguntungkan karena harga jualnya nggak terlalu jatuh,” ujarnya.

Meski kini menggunakan produk syariah, Angela tetap mempertahankan rekening bank konvensional sebagai rekening penerima gaji. “Payroll masih di bank konvensional,” katanya.

Pengalaman serupa dialami Falah (25), pemuda asal Brebes, Jawa Tengah. Ia memilih membuka rekening syariah Maybank bukan semata karena ingin menggunakan layanan syariah, melainkan karena percaya pada reputasi Maybank sebagai salah satu bank terbesar di Malaysia.

“Jadi saya lebih percaya. Waktu jalan-jalan ke Malaysia juga yang paling sering saya lihat memang Maybank,” katanya.

Namun, setelah menjadi nasabah, alasan yang membuatnya bertahan justru sederhana. Ia memilih tabungan berakad wadiah karena tidak dikenai biaya administrasi bulanan. “Bebas admin. Lumayan buat ngopi,” katanya sambil tertawa.

Hingga kini rekening syariah tersebut tetap digunakannya untuk menabung. Namun, rekening konvensional masih menjadi rekening utama karena digunakan untuk menerima gaji. “Payroll di bank konvensional. Terus transaksi sama keluarga dan teman-teman juga masih pakai bank konvensional,” ujarnya.

Pengalaman Angela dan Falah menunjukkan alasan anak muda memilih bank syariah mulai bergeser. Mereka datang bukan semata karena label syariah, melainkan karena produk yang dianggap mampu menjawab kebutuhan sehari-hari. Rekening bebas biaya administrasi hingga kemudahan berinvestasi emas justru menjadi daya tarik yang paling mereka rasakan.

Perubahan cara pandang terhadap bank syariah juga dialami Aprilia (25), perempuan Kristen asal Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Ia mengaku sempat menganggap bank syariah hanya diperuntukkan bagi umat Islam. Pengetahuannya saat itu sebatas dari pemberitaan ketika tiga bank syariah milik negara bergabung menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

“Sebagai orang Kristen saya menganggapnya syariah untuk Islam,” katanya.

Anggapan tersebut membuat Aprilia tak pernah terpikir membuka rekening di bank syariah. Bahkan ketika harus datang ke kantor cabang untuk mengurus rekening, ia mengaku sempat merasa canggung.

“Saya sempat takut karena semua customer service-nya pakai jilbab. Ternyata anggapan saya salah,” ujarnya sambil tertawa.

Pandangannya mulai berubah ketika mencari tempat untuk berinvestasi emas di BSI. Dari situlah ia mengetahui layanan bank syariah terbuka bagi siapa saja tanpa membedakan agama nasabah.

Kini rekening tersebut bukan hanya digunakan untuk menabung, tetapi juga mencicil emas. “Selama ini ternyata saya yang salah. Bank syariah bukan cuma buat orang Islam,” katanya.

Setelah menjadi nasabah, pandangannya semakin berubah. Menurut dia, produk bank syariah pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan bank konvensional. “Ternyata produknya memang mirip bank konvensional. Cuma saya merasa lebih aman dan nyaman,” ungkapnya.

Meski begitu, Aprilia menilai masih banyak masyarakat yang memiliki anggapan serupa. “Ya masalah stigma sih. Saya non-Muslim. Sama merasa fiturnya juga sama saja kayak konvensional,” ujarnya.

Menurut Aprilia, anggapan bank syariah hanya untuk umat Islam masih bertahan karena informasi yang diterima masyarakat belum merata. “Mungkin literasinya memang belum merata. Enggak semua orang juga melek literasi. Kadang memang informasinya kurang.”

Pengalaman Aprilia menunjukkan produk investasi juga bisa menjadi pintu masuk masyarakat mengenal layanan keuangan syariah.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |