Agus Budiana
Teknologi | 2026-08-02 13:12:03
Ilustrasi Generated AI
Hari ini, curhat panjang lebar ke chatbot di ponsel, atau merasa lega karena asisten virtual "mendengarkan" keluhan tentang hari yang berat, bukan lagi hal aneh. Dari fitur customer service yang bisa mendeteksi nada kesal di suara pelanggan, sampai mobil yang memperingatkan kita saat wajah terlihat mengantuk, kecerdasan buatan kini hadir di ruang-ruang paling personal dalam hidup kita: perasaan.
Tapi pertanyaannya tetap menggantung apakah mesin itu benar-benar memahami emosi kita, atau ia hanya pandai berpura-pura?
Ketika Mesin Belajar Membaca Wajah dan Suara Kita
Gagasan bahwa komputer bisa "mengenali" perasaan manusia sebenarnya sudah lama digagas. Rosalind Picard, ilmuwan yang membidani lahirnya bidang affective computing, pernah menjelaskan bahwa upaya ini pada dasarnya adalah usaha memberi kemampuan emosional kepada komputer mulai dari mengenali hingga merespons ekspresi manusia lewat sensor, kamera, dan model pembelajaran mesin.
Gagasan itulah yang kini kita rasakan sehari-hari: aplikasi kesehatan mental yang menganalisis nada bicara, atau layanan pelanggan berbasis AI yang bisa "menangkap" kekesalan seorang penelepon dari intonasinya lalu mengalihkan panggilan ke manusia.
Menariknya, meski menjadi pelopor bidang ini, Picard sendiri mengingatkan bahwa hingga kecerdasan buatan berkembang pesat lewat pembelajaran mendalam dan model bahasa besar, mesin pada dasarnya tetap tidak benar-benar memiliki perasaan, tidak berpikir, dan tidak sungguh-sungguh belajar dalam pengertian manusiawi persoalannya justru ada pada bahasa kita yang kerap keliru menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi di dalam mesin itu.
Di titik inilah kita mulai menyadari: kemampuan mendeteksi memang bukan hal yang sama dengan kemampuan memahami.
Antara Algoritma dan Kenyataan yang Rumit
Realitas kehidupan sehari-hari kita jauh lebih rumit daripada yang bisa ditangkap kamera atau mikrofon. Bayangkan seseorang yang tersenyum saat wawancara kerja karena gugup, bukan karena bahagia, atau seorang anak yang terlihat "murung" di layar saat belajar daring padahal ia hanya lelah.
Peneliti Kate Crawford, yang banyak mengkritisi industri pengenalan emosi berbasis AI, menyoroti bahwa penerapan teknologi semacam ini dalam konteks berisiko tinggi seperti rekrutmen kerja, penegakan hukum, dan pendidikan berpotensi melanggengkan bias dan menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Ia bahkan menegaskan bahwa gagasan wajah seseorang bisa secara akurat mengungkap apa yang sesungguhnya ia rasakan adalah asumsi yang keliru secara mendasar, karena ekspresi emosi sangat dipengaruhi budaya, konteks, dan kebiasaan pribadi masing-masing orang.
Dalam kehidupan nyata, ini berarti sistem AI yang menilai "mood" karyawan lewat kamera kerja, atau aplikasi yang menskor kejujuran calon pegawai dari mimik wajahnya, bisa saja salah menilai orang hanya karena caranya mengekspresikan diri berbeda dari data yang dipakai melatih algoritma tersebut.
Merasa Dipahami, Tapi Oleh Siapa?
Ironisnya, meski secara teknis AI belum benar-benar "merasakan", banyak orang justru merasa lebih dipahami oleh chatbot ketimbang oleh manusia di sekitarnya. Fenomena curhat ke AI, mengobrol dengan asisten virtual di malam hari, atau menjadikan aplikasi pendamping digital sebagai "teman" harian kini makin umum.
Yoshua Bengio, salah satu tokoh besar di balik kemajuan deep learning, menjelaskan bahwa yang membuat orang merasa dekat dengan AI bukanlah soal apakah mesin itu benar-benar sadar atau berkesadaran, melainkan karena interaksinya terasa seperti berbicara dengan entitas cerdas yang punya kepribadian dan tujuan sendiri itulah sebabnya semakin banyak orang menjadi terikat secara emosional dengan AI yang mereka gunakan.
Ia bahkan mengingatkan bahwa persepsi subjektif tentang kesadaran mesin ini berpotensi mendorong orang mengambil keputusan yang keliru, karena kita cenderung memproyeksikan pemahaman dan empati manusiawi pada sesuatu yang sesungguhnya bekerja lewat pola statistik semata.
Di sinilah letak persoalan yang lebih dalam: bukan cuma soal apakah AI memahami kita, tapi soal bagaimana kita, sebagai manusia, begitu mudah merasa dipahami oleh sesuatu yang sebenarnya hanya menyusun kata demi kata berdasarkan probabilitas.
Menimbang Ulang Apa Artinya "Memahami"
Dari ketiga sudut pandang ini, ada benang merah yang bisa kita tarik AI memang bisa mendeteksi pola, meniru respons empatik, bahkan membuat kita merasa didengar tapi memahami emosi dalam arti yang utuh, yang melibatkan pengalaman hidup, rasa sakit, kebahagiaan, dan konteks budaya yang kompleks, tampaknya masih berada di luar jangkauan mesin, setidaknya untuk saat ini.
Dalam keseharian, ini bukan alasan untuk menjauhi teknologi ini, karena manfaatnya nyata: membantu memantau kesehatan mental, memudahkan layanan publik, atau sekadar menemani saat sepi.
Namun ada baiknya kita tetap menyadari batasnya bahwa di balik respons yang terasa hangat itu, tidak ada seseorang yang benar-benar merasakan apa yang kita rasakan. Barangkali pertanyaan yang lebih penting bukan "bisakah AI memahami emosi kita", melainkan "seberapa siap kita menjaga jarak yang sehat, sambil tetap memanfaatkan kehadirannya dengan bijak."
Agus Budiana, adalah jurnalis, penulis, dan pemerhati komunikasi digital. Karyanya dimuat di berbagai platform media nasional dan mengangkat isu jurnalisme, media, AI, literasi digital, serta dinamika masyarakat informasi.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
3













































