Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, anggota DPR RI Fraksi Gerindra, Azis Subekti.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Ada satu momen yang selalu terasa menggantung setiap kali kita kembali pada trilogi film The Godfather: sebuah pintu yang perlahan tertutup.
Tidak ada suara keras, tidak ada amarah yang meledak—hanya kesunyian yang seperti menahan napas.
Di luar, kehidupan tetap berjalan. Di dalam, sesuatu telah bergeser, dan pergeseran itu tidak pernah benar-benar kembali ke titik semula.
Momen itu seperti cermin yang tidak menunjuk siapa pun secara langsung, tetapi diam-diam mendekatkan kita pada satu kemungkinan yang sering kita abaikan: bahwa perubahan terbesar dalam diri manusia justru terjadi ketika tidak ada yang terlihat berubah.
Kita kerap menganggap kisah keluarga Corleone sebagai cerita tentang dunia mafia—tentang kekerasan, transaksi gelap, dan hukum yang dilanggar. Tetapi semakin lama direnungkan, semakin terasa bahwa semua itu hanyalah lapisan luar.
Yang sesungguhnya bekerja di baliknya adalah sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan siapa pun: bagaimana kekuasaan pelan-pelan menggeser batas dalam diri manusia.
Bukan hanya mereka yang memimpin negara, memegang jabatan, atau menguasai sumber daya besar yang diuji. Dalam skala yang lebih kecil, ujian itu hadir pada siapa saja yang pernah merasa memiliki kendali—atas keputusan, atas orang lain, atas arah sebuah keadaan.
Dan di situlah cerita ini mulai menjadi milik kita semua.
Don Vito tidak berdiri sebagai sosok yang merasa dirinya jahat. Ia hadir sebagai seseorang yang merasa perlu melindungi. Dunia baginya terlalu keras untuk dibiarkan tanpa kendali.
Dalam dirinya, kekuasaan masih memiliki jeda—ada pertimbangan sebelum tindakan, ada batas yang, setidaknya, masih dija. Namun sejarah tidak pernah berhenti pada satu watak.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
1













































