REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK— Hasil serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di kawasan itu mencerminkan kesalahan perhitungan yang fatal, kata mantan perwira intelijen AS Scott Ritter.
Dilansir Aljazeera, Selasa (3/3/2026), operasi militer AS-Israel gagal secara praktis karena hanya berhasil membunuh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan beberapa orang lainnya, termasuk cucunya yang masih anak-anak, tetapi tidak berhasil menggulingkan rezim seperti yang diinginkan Donald Trump.
Bahkan, kata Ritter, orang-orang Iran mengumumkan berkabung atas kematian pemimpin tertinggi mereka dan menuntut balas dendam, bukan menggulingkan rezim seperti yang diinginkan Amerika.
Serangan itu juga tidak berhasil menghentikan program rudal Iran, yang menurut Ritter, memberikan respons yang tidak terduga dengan menggempur Israel dan beberapa negara Arab serta fasilitas ekonomi, yang berdampak buruk pada gagasan bahwa Amerika Serikat mampu melindungi sekutunya, terutama negara-negara Teluk.
Amerika akan menghadapi krisis
Untuk memperpanjang perang, Trump akan membutuhkan lebih banyak kemampuan militer, yang telah diperingatkan oleh para pemimpin militer sebelum perang bahwa kelanjutan perang akan menghabiskan persediaan militer Amerika di wilayah tersebut, kata mantan perwira Amerika itu.
Ritter memperkirakan Iran akan pulih dari serangan ini, dan persediaan Amerika akan habis. Dia mengatakan negara-negara Teluk harus menghitung kembali ketergantungan mereka pada Washington dalam hal keamanan, dan memperkirakan akan ada keputusan besar yang diambil dalam beberapa hari mendatang.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Iran Ali Larijani mengatakan bahwa negaranya, tidak seperti Amerika Serikat, siap untuk berperang dalam jangka panjang.
Dia menambahkan dalam sebuah tweet di X, "Kami akan membuat musuh-musuh kami menyesali perhitungan mereka yang salah," sebagai tanggapan atas serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Di Amerika Serikat, Trump mengancam akan menyerang Iran dengan keras, dengan mengatakan bahwa gelombang besar belum terjadi, tetapi akan segera datang, dan ia tidak menutup kemungkinan untuk mengirim pasukan ke Iran.

2 hours ago
4
















































