Polda Metro Jaya Tangkap 101 Orang saat Demo May Day

4 hours ago 2

KEPOLISIAN Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) menangkap 101 orang yang mengikuti aksi demonstrasi Hari Buruh Internasional atau May Day 2026. Polisi meminta keterangan mereka atas dugaan upaya membuat kerusuhan saat demonstrasi.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Iman Imanuddin mengatakan, mereka diduga “kelompok anarkis atau perusuh” yang berupaya “menyusup” ke dalam aksi buruh. Adapun 101 orang yang diminta keterangan berada dalam rentang usia 20 sampai 35 tahun.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Iman memastikan 101 orang itu tidak berstatus tersangka, dan akan segera dipulangkan setelah pemeriksaan. “Sejumlah 101 orang sedang memberikan informasi kepada kami, dan kami sampaikan setelah selesai penyampaian informasi tersebut mereka akan segera kembali ke rumahnya masing-masing,” kata Iman saat konferensi pers di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Jumat, 1 Mei 2026.

Berdasarkan pemeriksaan, polisi menemukan bahwa mereka berencana “mengadu domba” antara elemen serikat buruh, dengan cara menyusup ke dalam kegiatan demonstrasi. Selain itu, polisi juga menyebut mereka berniat merusak fasilitas umum serta sarana publik.

Iman mengatakan, orang-orang tersebut juga berniat melakukan provokasi dan penyerangan terhadap petugas pengamanan. “Mereka juga akan menggunakan media sosial untuk melakukan upaya provokasi agar massa yang lebih beringas bisa bergabung, atau memicu kemarahan massa yang lainnya,” ujar Iman.

Menurut temuan polisi, orang-orang tersebut telah membuat jadwal atau rundown yang mendetailkan kapan mereka akan melakukan kerusuhan saat unjuk rasa. Dari 101 orang tersebut, polisi menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya termasuk botol kosong dan kain pemicu serta bahan bakar untuk membuat bom molotov.

Polisi juga menyita paku beton, yang menurut Iman akan digunakan orang-orang tersebut untuk merusak bangunan ataupun pembatas yang terbuat dari beton. Iman menjelaskan, orang-orang tersebut bahkan berbagi peran saat demonstrasi. 

“Sebagian melakukan perusakan terhadap beton atau pagar pembatas, sehingga rencananya kalau tiba waktunya terjadi kerusuhan, memudahkan mereka untuk merobohkan pagar pembatas,” katanya.

Polisi juga menyita ketapel beserta gotrinya, senjata tajam, jadwal atau rencana kerusuhan, alat komunikasi, serta uang senilai Rp 10.961.100 atau Rp 10 juta.

Massa May Day Digeledah

Sebelumnya, sejumlah massa aksi May Day 2026 digeledah oleh orang-orang tak dikenal. Hal itu dikonfirmasi oleh pengacara publik Lembaga Bantuan Hukum (LBH Jakarta) Nabil Hafizhurrahman. “Ada sekitar tiga atau empat (orang) berkerumun,” kata Nabil saat ditemui di tengah-tengah jalannya unjuk rasa, Jumat.

Nabil mengatakan, pemeriksaan itu dilakukan di gerbang restoran yang berada tepat di samping kompleks DPR/ MPR. Setiap orang yang melewati lokasi itu, kata Nabil, diminta untuk menunjukkan isi tas mereka.

Menurut Nabil, orang-orang itu diduga dari pihak kepolisian. Musababnya tidak jauh dari lokasi pemeriksaan ada tenda yang bertuliskan Korps Brigade Mobil atau Brimob. “Mereka tidak memakai seragam,” ucap Nabil kepada Tempo.

YLBHI Minta Polisi Buktikan Tuduhan Penyusup

Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sebelumnya menanggapi tuduhan adanya penyusup dalam unjuk rasa May Day. Ketua YLBHI Muhammad Isnur menyatakan, polisi semestinya tidak boleh asal dalam memberikan tuduhan. 

“Penyusupnya siapa, jangan sembarang tuduh dong,” ujar Isnur saat ditemui di tengah jalannya unjuk rasa pada Jumat, 1 Mei 2026.

Menurut Isnur, polisi harus bertanggung jawab terhadap tuduhan tersebut. Polisi harus membuktikan siapa pihak yang diduga hendak merusuh. “Seringkali tuduhan dialamatkan pada anarko, tapi apakah itu benar,” ucap Isnur kepada Tempo. 

Isnur mengatakan, kepolisian memang memiliki kewajiban melakukan pencegahan dengan mendeteksi potensi kerusuhan oleh kelompok tertentu, baik itu dari kelompok sipil atau aparat dari institusi lain.

Sebelumnya, Wakil Kapolda Metro Jaya Brigadir Jenderal Dekananto Eko Purwono mengatakan, ada kelompok massa terorganisir yang diprediksi akan memicu kerusuhan. “Berdasarkan informasi intelijen,” ujar Dekananto, Jumat.

Vedro Imanuel Girsang berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |