Danantara Terbitkan Obligasi USD 1,5 Miliar. Apa Risikonya?

5 hours ago 2

CENTER of Economic and Law Studies (Celios) mengkritik penerbitan obligasi perdana oleh PT Danantara Investment Management senilai US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,5 triliun. Penerbitan Gobal Bond Danantara dikhawatirkan berisiko menimbulkan beban pembayaran bunga yang menyedot dividen dari BUMN hingga beban bayangan bagi kas negara.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menanggapi penerbitan surat utang Danantara sebagai solusi untuk menambah alokasi pendanaan program yang tidak bisa ditanggung oleh kapasitas anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). “Program PSN sebagian dibebankan ke Danantara bukan APBN, dan ini menciptakan risiko quasi-fiskal,” ucapnya lewat keterangan resmi yang dikutip pada Sabtu, 20 Juni 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Menurut Celios, penerbitan utang dalam jumlah besar oleh Danantara, terutama dalam denominasi asing, membawa kekhawatiran adanya risiko nilai tukar atau risiko likuiditas ketika menerbitkan tenor pendek, sementara waktu menghasilkan investasi atau portofolionya bersifat jangka panjang. Selain itu ada pula risiko Danantara menjadi shadow APBN.

Kekhawatiran muncul soal transparansi penggunaan utang tersebut. "Kewajiban-kewajiban pemerintah, misalnya menjaga harga energi murah dan menalangi selisih harga, bisa dipindahkan menjadi beban BUMN. Contohnya, ketika pemerintah menahan tarif bahan bakar atau listrik, maka Pertamina atau PLN akan membayar kompensasi tersebut lebih dahulu," ujar Bhima.

Ketika Danantara menerbitkan utang dalam jumlah besar, Bhima mempertanyakan, apakah ada jaminan bahwa dana ini tidak digunakan untuk menyuntik modal BUMN energi yang terbebani utang kompensasi pemerintah. Atau menutup kebutuhan kas yang sebenarnya berasal dari kewajiban kompensasi energi pemerintah?

Celios juga menghawatirkan cara Danantara mengelola modal dengan utang yang berlebihan. Aset Danantara yang saat ini US$ 1 triliun juga disebut merupakan klaim yang belum diverifikasi terkait dengan kelancaran aset, dan tingkat risiko per jenis aset. Akibat dari besarnya penerbitan utang, memunculkan beban pembayaran bunga yang menyedot dividen dari Badan Usaha Milik Negara.

Danantara juga belum menjelaskan secara rinci penggunaan dana dari penerbitan obligasi perdanaan dengan denominasi dolar Amerika Serikat atau Global Bond Danantara. Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan dana hasil penerbitan obligasi tersebut terbagi dalam tenor 5 tahun dan 10 tahun, dan masing-masing menyerap senilai US$750 juta. 

Ia menyatakan penerbitan Global Bond Danantara dengan denominasi dolar Amerika Serikat mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed lebih dari tiga kali lipat. Hal tersebut, kata Rosan, juga menunjukkan bahwa minat investor global terhadap Indonesia masih tinggi.

Danantara awalnya menargetkan penerbitan perdana sebesar US$ 1 miliar. Namun, setelah Rosan melakukan rangkaian roadshow ke sejumlah pusat keuangan dunia, permintaan investor naik hingga mencapai US$ 4,6 miliar atau sekitar Rp 81,5 triliun (dengan asumsi rupiah 17.725 per dolar AS). Sehingga penerbitan obligasi perdana ini diputuskan US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 26,5 triliun.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |